Pernah ga sih kalian bertanya-tanya, “Kenapa ya saya makan sedikit gampang naik berat badannya?” atau, “Kenapa ya udah minum kopi, tapi kok tetep ngantuk?”. Ternyata jawabannya ada di data DNA kita masing-masing. Kalian pernah dong mendengar adanya tes DNA untuk mengetahui asal-usul kita yang bisa kita akses di beberapa website? Tes DNA semacam ini disebut direct-to-consumer DNA testing, dan mengetahui asal-usul kita hanya satu dari banyak informasi yang bisa kita dapat dari DNA!
Kenapa respons kita terhadap makanan, metabolisme tubuh kita, atau efek dari suplemen bisa berbeda-beda tiap orang? Semua itu bisa dijawab dari profil genetik kita masing-masing, dan merupakan ranahnya nutrigenomika. Nutrigenomika adalah subbidang ilmu gizi dan beririsan dengan ilmu biologi molekuler yang menjelaskan bagaimana genetik memengaruhi tubuh kita dalam merespons zat gizi serta komponen bioaktif yang terkandung dalam makanan maupun suplemen.
Sejak selesainya Human Genome Project pada tahun 2003, sebanyak 3 juta pasang kode genetik manusia sudah berhasil teridentifikasi. Makanya, riset seputar kanker, penyakit bawaan, dan pengobatan individual semakin pesat dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa tahun terakhir juga, layanan tes DNA direct-to-consumer menjamur. Dengan tes profil genetik, kode genetik kita bisa dianalisis, dan sifat-sifat spesifik tubuh kita secara individual bisa diketahui.
Tes semacam ini dilakukan atas kesadaran sendiri tanpa rekomendasi dokter, dan umumnya hasil dari tes diinterpretasikan sendiri oleh konsumen, tentunya dengan panduan dari perusahaan layanan tersebut. Biasanya, perusahaan-perusahaan ini melakukan analisis data dengan bantuan artificial intelligence (AI). Jadi, kamu bisa dapat saran dan insight terkait gizi dan kesehatan yang presisi, spesial berdasarkan profil genetik kamu. Satu penelitian juga memanfaatkan AI dengan lebih dalam, yaitu dengan metode machine learning (ML). ML yang mereka kembangkan bisa memprediksi respons tubuh terhadap gula darah.
Dengan mengombinasikan data pengukuran gula darah dilakukan secara intensif terhadap beberapa orang, data profil genetik, dan data asupan glukosa, ML akan mempelajari “pola” respon gula darah setiap orang, sehingga respons gula darah terhadap makanan lainnya bisa diprediksi, yang tentunya akan berbeda dengan orang lain.
Setiap negara sebenarnya punya pedoman gizi masing-masing, berdasarkan pola makan lokal masyarakatnya serta berdasarkan data akumulasi dari seluruh masyarakat di negara itu. Diharapkan, jika semua orang mengikuti pedoman gizi, negara tersebut bisa mencegah timbulnya masalah terkait gizi dan kesehatan. Tapi pedoman gizi ini sangatlah umum, dan biasanya di kasus tertentu, seseorang butuh saran gizi yang lebih presisi.
Ngomong-ngomong soal saran gizi yang presisi, presisi ini pun sebenarnya ada 3 level. Level yang pertama yaitu berdasarkan karakteristik umum, misalnya pedoman gizi khusus untuk lansia, ibu hamil, atlet, atau orang dengan penyakit tertentu. Level presisi yang kedua berdasarkan karakteristik fenotip tubuh kita, seperti kondisi metabolik, epigenetik, atau profil mikrobiota usus. Misalnya, panduan dan tatalaksana gizi untuk seorang atlet yang mengalami anemia, ibu hamil dengan diabetes gestasional, atau orang dengan penyakit Inflammatory Bowel Disease (Crohn’s dan kolitis ulseratif) yang punya kelainan pada profil mikrobiota ususnya.
Nah, sebagai seorang individu, kebutuhan gizi dan respons tubuh kita bisa sangat berbeda. Saran gizi dan kesehatan berdasarkan DNA adalah yang paling presisi, karena tidak ada orang dengan DNA yang sama persis, bukan? Jadi, dengan adanya precision nutrition, kita akan mendapatkan pedoman diet yang lebih spesifik dan lebih efektif untuk mencegah penyakit pada diri kita sendiri.
Prinsipnya keren banget, kan? Kita bisa mengetahui saran gizi yang benar-benar presisi dan khusus buat diri kita sendiri, karena DNA kita bisa nunjukin apa biar kita bisa memilih makanan yang sesuai buat tubuh. Tes DNA dengan sistem direct-to-consumer membuat kita bisa mengakses tes DNA tanpa harus ke klinik atau ke dokter. Biasanya, layanan tes DNA untuk melihat asal-usul keturunan di website-website juga punya layanan untuk melihat kondisi kesehatan kamu berdasarkan DNA, dan pastinya harganya lebih mahal ya karena ini layanan yang lebih kompleks.
Jadi, setelah kamu registrasi di web mereka, membayar, dan mendapat kiriman alat uji dari mereka, kamu hanya perlu memberikan sampel saliva kamu ke tabung plastik kecil yang sudah disediakan, lalu kamu kirim kembali ke alamat uji, lalu tunggu hasilnya via website setelah beberapa minggu. Mungkin agak gimana gitu ya, mengirimkan sampel “ludah”. DNA kita itu tersimpan di setiap sel di tubuh kita, kecuali sel darah merah. Di saliva terkandung sel-sel dari dinding bagian dalam mulut kita! Terus kamu berpikir, kan bisa pakai rambut, kayak di film-film? Nah, ternyata hasil ekstraksi DNA dari sampel saliva lebih stabil dan keberhasilannya lebih tinggi daripada rambut. Inilah kenapa sampel saliva dipilih untuk menjadi sampel tes DNA semacam ini.
1. Kita belum punya dasar hukum yang kuat terhadap penggunaan data genetik
Pengujian genetik secara langsung ke konsumen itu belum ada dasar hukum yang mengaturnya, jadi perusahaan sebagai institusi swasta yang memperoleh, mengolah, dan menyimpan data genetik bisa saja menggunakannya untuk kepentingan lain di luar konsensus konsumen. Privasi dan kerahasiaan informasi genetik itu penting, DNA itu blueprint tubuh kamu lho! Sebagai konsumen, kadang kita secara tidak sadar setuju dengan kebebasan perusahaan untuk menggunakan data kita.
Ada juga sih perusahaan yang menyediakan consent box “Saya setuju data saya digunakan data untuk penelitian”. Tapi aneh banget, karena normalnya, partisipan penelitian itu dibayar oleh grup penelitiannya, bukan sebaliknya. Mungkin kalian pernah mendengar kasus 23andMe yang menyalahgunakan data konsumennya dan sekarang sedang diproses hukum setelah dituntut secara kolektif di Amerika Serikat. Data pribadi atau foto yang disalahgunakan orang saja bisa membuat kita panik, kan, apalagi kalau data blueprint tubuh kita yang disalahgunakan.
2. Interpretasi hasil tanpa professional
Tidak ada profesional yang menjembatani antara kamu dan perusahaan, sehingga kalau kamu bingung dengan hasilnya, tidak ada pihak yang bisa dikonsultasikan. Mungkin kamu bisa membawa hasil tes kamu ke klinik dan berkonsultasi dengan dokter, tentunya dengan biaya tambahan yang kamu keluarkan sendiri.
3. Informasi tambahan yang tidak perlu
Tes DNA akan memberitahukan kondisi yang kamu belum tahu sebelumnya, misalnya, secara genetik kamu punya gen tertentu yang membuat kamu berisiko tinggi untuk mengalami kanker hati. Tapi sebenarnya itu hanya risiko, belum tentu terjadi. Yang jadi masalah adalah ketika kamu individu yang gampang panik. Ini bisa bikin hidup kamu penuh cemas dan was-was.
Secara psikologis, tidak semua orang siap untuk menerima kabar buruk tentang kesehatan mereka. Kalaupun kamu bisa menerima apa pun kondisi kamu demi mengetahui hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan, tapi kerabat dekat kamu mungkin belum bisa menerima “berita buruk” itu (kalau memang ada).
4. Diskriminasi genetik
Ada satu lagi kekurangan tes DNA buat memperoleh precision nutrition. Diskriminasi genetik namanya. Diskriminasi ini bisa terjadi, misalnya ketika suatu perusahaan mendiskualifikasi kandidat karyawan, asuransi yang menaikkan premi, atau bahkan penolakan pertanggungan asuransi karena mereka mengetahui hasil tes DNA kamu dengan risiko yang “buruk” itu tadi. Sebenarnya ini penyalahgunaan informasi genetik pribadi yang melanggar hukum dan dilarang di sebagian besar negara Barat. Tapi bagaimana di Indonesia?
Tes DNA untuk precision nutrition adalah sebuah terobosan penting di bidang biologi, kesehatan, dan teknologi di abad ini. Mungkin kamu mau ikut tesnya untuk seru-seruan atau sekadar memenuhi rasa penasaran kamu, dan kamu ada tabungan yang cukup, boleh-boleh saja untuk dicoba. Toh, tujuannya untuk memperjuangkan hidup yang sehat, kan? Tetapi dengan banyaknya pertimbangan, kita perlu menjadi konsumen yang cerdas dan tidak mudah termakan promosi, dan mencari tahu dulu apakah kamu bisa menerima konsekuensinya.
Sebenarnya, apabila kamu tidak memiliki keluhan kesehatan yang berarti, dengan mengikuti pedoman gizi di negara kita berada sudah sangat cukup untuk mendukung gaya hidup yang sehat. Tapi kalau kamu benar-benar penasaran dan ingin tahu saran dan pedoman gizi yang unik dan bikin kamu merasa spesial, kamu bisa masuk ke level presisi yang ketiga, misalnya, cek profil darah lengkap untuk tahu kondisi kesehatan kamu secara umum, atau kamu juga bisa tes kadar vitamin atau mineral tertentu.
Kamu bisa mendapatkan pedoman gizi spesifik dari dietisien untuk tahu makanan apa saja yang bisa kamu makan lebih banyak atau sedikit, sebagai tindak lanjut dari hasil tes darah tersebut. Terkadang, tujuan kita bisa dicapai dengan hal-hal yang sederhana. Semoga tulisan ini hari ini juga bisa memperkaya wawasan dan kita bisa lebih sadar dan mindful dalam memilih jalan di journey hidup sehatnya ya.
Source:
Zeevi, D., Korem, T., Zmora, N., Israeli, D., Rothschild, D., Weinberger, A., Ben-Yacov, O., Lador, D., Avnit-Sagi, T., Lotan-Pompan, M., Suez, J., Mahdi, J. A., Matot, E., Malka, G., Kosower, N., Rein, M., Zilberman-Schapira, G., Dohnalová, L., Pevsner-Fischer, M., … Segal, E. (2015). Personalized Nutrition by Prediction of Glycemic Responses. Cell, 163(5), 1079–1094. https://doi.org/10.1016/j.cell.2015.11.001
https://sequencing.com/blog/post/5-things-you-need-know-about-hair-dna-tests
https://www.alphabiolabs.co.uk/learning-centre/where-is-dna-found/
