Apakah orang Indonesia bisa tumbuh tinggi seperti orang Belanda? Sains menjawab

Apakah orang Indonesia bisa tumbuh tinggi seperti orang Belanda? Sains menjawab

Pernahkah kamu bertemu orang Eropa, khususnya orang Belanda yang punya postur tinggi dan besar? Ga perlu kaget dan insecure membandingkan dia dengan tinggi badan kamu, karena Belanda memang dihuni oleh orang-orang paling tinggi di dunia. Tinggi rata-rata populasi Belanda adalah 184 cm untuk laki-laki dan 171 cm untuk perempuan dewasa. Kok bisa mereka tumbuh tinggi?

World Population Review 2026
World Population Review 2026

Pengaruh profil gen

Sampai sekarang belum ada riset yang menjelaskan secara spesifik penyebab seseorang bisa menjadi tinggi dari profil gennya. Namun, setidaknya sudah ditemukan 180 gen di dalam tubuh manusia yang berhubungan (bukan asas sebab-akibat) dengan tinggi atau pendeknya 80 dari 100 orang. Duh, bicara soal gen kok kedengarannya rumit ya? Sederhananya, gen bisa dianalogikan sebagai blueprint, atau kumpulan resep yang ada di setiap sel. Resep ini akan menentukan karakteristik tubuh kita (tinggi badan, warna kulit, warna mata, risiko penyakit tertentu, bahkan kecerdasan). Karakteristik manusia adalah hasil “masakan” dari kombinasi beberapa resep, jadi hasilnya berupa spektrum dan tidak mutlak. Gen atau resep tadi berasal dari 50% ibu dan 50% ayah. Semakin banyak gen yang berhubungan dengan pertambahan tinggi badan dari kombinasi gen warisan dari ibu dan ayah di dalam tubuh kamu, semakin besar potensi kamu untuk tumbuh tinggi.

Gambar 1. Ilustrasi perbandingan ukuran sepatu laki-laki di Belanda dan sepatu perempuan Indonesia
Gambar 1. Ilustrasi perbandingan ukuran sepatu laki-laki di Belanda dan sepatu perempuan Indonesia

Menariknya, punya gen atau “resep” untuk tumbuh tinggi tidak menjamin kita akan jadi tinggi di usia dewasa, karena pembuatan resep atau ekspresi gen itu tadi ditentukan oleh faktor lingkungan seperti pola makan, lingkungan, aktivitas fisik, dan lain-lain. Peneliti menyebutnya sebagai “epigenetik”. Faktor gen sangat penting, tapi gen ini tentu harus teraktivasi. Jadi, kalau kita punya gen tubuh tinggi tapi asupan gizinya tidak memadai, tinggi badan pun jadi tidak maksimal. Seperti apa pola makan orang Belanda yang mendukung pertumbuhan sehingga bisa tinggi dan besar?

Pola makan yang menunjang pertumbuhan

Orang Belanda tidak selamanya jadi unggulan di bidang tinggi badan. Faktanya, 150 tahun lalu orang Amerika punya badan yang jauh lebih tinggi dari mereka. Namun, sekarang rata-rata tinggi orang Belanda bertambah 20 cm, sedangkan orang Amerika hanya bertambah 6 cm. Pertambahan tinggi badan yang masif ini, selain karena perbaikan kondisi lingkungan hidup pasca perang, juga dikaitkan dengan konsumsi produk susu yang semakin masif. Belanda berhasil menambah luas daratannya dengan menggunakan kincir angin sebagai pompa dan tanggul untuk mengatur aliran air laut. Karena daratan yang baru kering ini punya tanah yang terlalu asam untuk menanam produk pertanian, dijadikanlah sebagai ladang peternakan sapi karena rumput tumbuh subur di sana. Produksi susu sapi yang berlimpah dari lahan baru ini juga diolah menjadi produk lain seperti keju dan yoghurt.

Gambar 2. Daratan reklamasi laut yang cocok untuk peternakan sapi
Gambar 2. Daratan reklamasi laut yang cocok untuk peternakan sapi

Tahukah kalian bahwa mahasiswa Belanda yang penulis temui itu makan siang seadanya, dan makan besar hanya di malam hari? Kok kebiasaan makan “seadanya” seperti itu bisa bikin mereka tumbuh tinggi? Ternyata, pembeda di sini adalah pola makan kaya susu dan produk turunannya, bahan pangan kaya protein hewani, kalsium, dan vitamin D untuk pertumbuhan tulang. Yogurt dengan muesli adalah sarapan umum di sini, dan roti isi keju adalah makan siang andalan sejak kecil. Kata mereka, “Ini mudah dan efisien untuk dimakan”. Bahkan penulis pernah satu kelas dengan mahasiswa Belanda yang menghabiskan 400 g yogurt di saat istirahat kelas 15 menit. Selain sering mengonsumsi produk susu, orang Belanda umumnya juga hobi berolahraga.

Gaya hidup dan kesehatan secara umum

Olahraga dan aktivitas fisik adalah budaya di sini. Menemui orang yang jogging di tengah malam, di suhu dingin, atau bahkan saat hujan deras bukan temuan aneh. Pemerintah juga menyediakan fasilitas  bersepeda yang super lengkap, termasuk akses tempat parkir sepeda dan jalur khusus sepeda yang terpanjang di dunia. Anak-anak di Belanda sudah diajari bersepeda sejak usia 3 tahun, dan mereka biasa bersepeda ke mana saja dan di segala cuaca. Setiap sekolah dasar di Belanda punya playground yang sangat mendukung anak-anak aktif bermain dan bergerak. Penelitian menunjukkan anak yang aktif melompat, melakukan aktivitas aerobik, dan mengangkat beban punya tulang yang lebih padat dan pertumbuhan tulang yang lebih baik. Manfaat berolahraga tentu bukan cuma untuk anak-anak. Untuk orang dewasa, bukan untuk tumbuh lebih tinggi, tapi untuk mencegah osteoporosis atau pengeroposan tulang pada masa tua. Tekanan yang berlebih pada tulang akan memicu tubuh untuk membuang tulang yang lama dan membuat tulang baru yang lebih kuat dan tahan patah.

Olahraga bisa dilakukan di mana saja, dari jogging, bermacam-macam cabang olahraga, hingga yoga di rumah.  Tetapi kalau kita berbicara tentang pusat binaraga, di Belanda gym komersial lebih banyak per penduduk dibandingkan dengan Indonesia. Rasionya adalah 1 gym untuk 5000 orang di Belanda, sedangkan di Indonesia 1 gym untuk 10 000 orang. Fakta-fakta unik ini menunjukkan tingginya minat orang Belanda untuk tetap aktif bergerak.

Bisakah orang Indonesia menyamai tinggi orang Belanda?

Secara individu, ya tentu bisa! Apalagi kalau terdapat profil gen yang potensial untuk tumbuh tinggi dan dimaksimalkan dengan pola makan bergizi, olahraga rutin, tidur yang nyenyak, dan hidup sehat sejak di dalam kandungan sampai usia pubertas. Bahkan bisa saja kamu tumbuh tinggi melampaui rata-rata tinggi orang Belanda. Tapiii… kalau kamu sudah berumur lebih dari 18 tahun, sayang, sudah tidak mungkin untuk menambah tinggi badan secara alami, kecuali operasi tulang. Pertumbuhan terjadi sejak di dalam kandungan, kemudian pada bayi, balita, anak-anak, hingga masa remaja, di mana puncak pertumbuhan tulang terjadi pada usia 8-14 tahun.

Olah raga yang bisa dilakukan untuk fokus pada penambahan tinggi badan, contohnya lompat tali, basket, jogging, peregangan atau pull-up. Gerakan ini tidak hanya akan mendorong kerja hormon pertumbuhan dan meningkatkan kepadatan tulang. Berolahraga juga bisa menjaga postur tubuh yang tegap dan menguatkan otot sehingga tubuh terlihat lebih tinggi. Tidur nyenyak dan lelap juga bisa mendukung penambahan tinggi badan karena proses pertumbuhan terjadi ketika anak tidur.

Pola makan yang baik bisa dicapai dengan mengonsumsi makanan yang beragam, dengan berfokus pada zat gizi kunci berikut.

  1. Protein hewani: sebagai bahan dasar pembentukan sel, mau itu sel otot, tulang, maupun kolagen, diutamakan dari protein nabati karena hanya protein hewani yang mengandung vitamin B12. Sumber utama adalah telur, ikan, udang, daging sapi, daging ayam, susu. Kombinasi asam amino lisin dengan vitamin B12 yang terkandung akan meningkatkan growth hormone atau hormon pertumbuhan.
  2. Kalsium: sebagai mineral komponen utama tulang. Ada di susu, yogurt, keju, sayuran berdaun hijau (bayam, daun singkong, brokoli, sawi hijau, kale), ikan yang dimakan dengan tulangnya (ikan presto, ikan teri, udang rebon), almond/kacang badam, atau makanan kemasan yang terfortifikasi. Sayuran hijau juga kaya zat besi yang dapat mendukung sintesis kolagen pada otot dan sendi.
  3. Vitamin D: sangat penting dalam penyerapan kalsium ke dalam tulang. Didapat dari susu, kuning telur, ikan laut berlemak (ikan kembung, cakalang, tuna, sarden, kakap, salmon), sinar matahari pagi, atau makanan dan minuman kemasan terfortifikasi. Penting: karena vitamin D larut dalam lemak, tidak disarankan untuk menggoreng ikan sampai kering. Hal ini akan menghilangkan kandungan vitamin D hingga 50% akibat terpapar suhu tinggi (>150°C) dan terlarut dalam minyak penggoreng.

Susu dan produk turunannya memang mengandung semua zat gizi kunci ini. Tapi susu bukan segalanya. Orang yang alergi susu atau intoleransi laktosa juga masih bisa kok untuk tumbuh tinggi, selama rajin mengonsumsi makanan yang menunjang kecukupan “bahan baku” untuk tumbuh. Isi piring berwarna-warni berisi beragam macam makanan sangat fundamental untuk mengonsumsi zat gizi secara lengkap. Jadi, slogan “4 sehat 5 sempurna” yang mementingkan konsumsi susu sudah tidak relevan lagi di masa sekarang.

Tapi kalau kita bicara rata-rata tinggi badan nasional di Indonesia, untuk menyamai tinggi orang Belanda hampir tidak mungkin, setidaknya dalam satu generasi ke depan. Lah, kok begitu? Indonesia masih berjuang melawan stunting. Masih banyak balita yang, alih-alih tumbuh tinggi, masih berjuang untuk tumbuh normal. Dalam 10 tahun terakhir, angka balita stunting turun secara lambat dari 30% pada tahun 2018 menjadi 20% pada tahun 2024. Padahal, stunting tidak hanya mengakibatkan pendek secara fisik, tetapi juga terganggunya perkembangan otak. Jangankan untuk mengejar rata-rata tinggi Belanda, peningkatan rata-rata nasional beberapa sentimeter saja sudah bagus. Masalah stunting ini kompleks dengan penyebab multisektor, seperti akses ke makanan bergizi, masalah ekonomi mikro, fasilitas kesehatan yang belum merata, pendidikan orang tua, hingga lingkungan tempat anak tumbuh yang tidak bersih dan rawan penyakit. Selain masalah stunting, orang Indonesia juga tidak punya profil genetik populasi seperti orang Belanda, sehingga untuk tumbuh tinggi seperti mereka hampir tidak mungkin secara populasi.  

Dari kacamata penulis yang seorang ahli gizi, postur tinggi sebuah populasi menunjukkan kualitas hidup bangsa tersebut. Akses ke makanan bergizi, rumah sakit dan fasilitas olahraga yang bagus, lingkungan hidup yang aman, udara bersih, serta orang tua terdidik yang bisa memberikan parenting cerdas secara otomatis akan membuat populasi tersebut memiliki generasi yang memiliki tumbuh kembang yang prima. Intinya, tinggi atau pendek memang tidak menentukan kualitas manusia. Seseorang yang tinggi tidak membuatnya jadi lebih berarti. Orang dengan postur pendek juga punya kualitas yang layak dihargai. Kita semua tetap setara. Fitur fisik bisa jadi menarik, tapi tidak ada yang bisa menandingi kualitas diri yang baik. Yang penting, kita memperbaiki diri masing-masing dan kita bisa merasakan hasilnya bersama-sama di generasi selanjutnya.

Source:

45 twin cohorts. Scientific Reports, 6(1), 28496. https://doi.org/10.1038/srep28496

Bicknell, L. S., Hirschhorn, J. N., & Savarirayan, R. (2025). The genetic basis of human height. Nature Reviews Genetics, 26(9), 604-619. https://doi.org/10.1038/s41576-025-00834-1

Gunter, K., Baxter-Jones, A. D., Mirwald, R. L., Almstedt, H., Fuchs, R. K., Durski, S., & Snow, C. (2007). Impact Exercise Increases BMC During Growth: An 8-Year Longitudinal Study. Journal of Bone and Mineral Research, 23(7), 986. https://doi.org/10.1359/JBMR.071201

https://www.science.org/content/article/did-natural-selection-make-dutch-tallest-people-planet doi: 10.1126/science.aab2453

https://worldpopulationreview.com/country-rankings/average-height-by-country

Jelenkovic, A., Sund, R., Hur, Y. M., Yokoyama, Y., Hjelmborg, J. V., Möller, S., Honda, C., Magnusson, P. K., Pedersen, N. L., Ooki, S., Aaltonen, S., Stazi, M. A., Fagnani, C., Freitas, D. L., Maia, J. A., Ji, F., Ning, F., Pang, Z., Rebato, E., . . . Silventoinen, K. (2016). Genetic and environmental influences on height from infancy to early adulthood: An individual-based pooled analysis of Stulp, G., Barrett, L., Tropf, F. C., & Mills, M. (2015). Does natural selection favour taller stature among the tallest people on earth? Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 282(1806), 20150211. https://doi.org/10.1098/rspb.2015.0211

Lu, Z., Chen, T., Zhang, A., Persons, K., Kohn, N., Berkowitz, R., Martinello, S., & Holick, M. (2007). An Evaluation of the Vitamin D3 Content in Fish: Is the Vitamin D Content Adequate to Satisfy the Dietary Requirement for Vitamin D? The Journal of Steroid Biochemistry and Molecular Biology, 103(3-5), 642. https://doi.org/10.1016/j.jsbmb.2006.12.010

Schönbeck, Y., Talma, H., Van Dommelen, P., Bakker, B., Buitendijk, S. E., HiraSing, R. A., & Van Buuren, S. (2013). The world’s tallest nation has stopped growing taller: The height of Dutch children from 1955 to 2009. Pediatric Research, 73(3), 371-377. https://doi.org/10.1038/pr.2012.189

Sun, F., Chao, L., Zhang, J., & Pan, X. (2023). Exercise combined with lysine-inositol vitamin B12 promotes height growth in children with idiopathic short stature. Growth Hormone & IGF Research, 69-70, 101535. https://doi.org/10.1016/j.ghir.2023.101535

Posts Releases

1 2 3 4 5