Bagian Kedua
Ketika melakukan riset untuk bukunya De Zwevende Wereld, Annejet van der Zijl menemukan sangat banyak fakta kehidupan anak Franz von Siebold dengan Sonogi. Oleh karena itu, ia menulis tentang jalan kehidupan Oine yang masih kecil ketika ayahnya diusir dari Jepang dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata. Tuduhan itu berdasarkan koleksi peta Siebold, dan peta adalah rahasia negara. Dari Desjima ia kembali ke Batavia dan dari sana ia kembali ke Eropa, memboyong segudang koleksinya.
Dengan cinta dan rindu dia masih tetap berkabar dengan Sonogi, namun hubungan mereka putus ketika Sonogi menceritakan bahwa ia akan menikah dengan seorang pria Jepang. Siebold sangat terpukul; semua usaha Sonogi setelah itu untuk menghubunginya tidak pernah mendapat jawaban.
Sepeninggal Franz, Oine hidup tenteram bersama Sonogi. Oine tumbuh menjadi gadis cantik yang sering dipandang aneh karena wajahnya tidak seperti orang Jepang asli, rambutnya ikal, dan perawakannya tinggi, namun semua itu tidak mengganggunya. Dalam usaha mencapai cita-citanya, ia mendapat banyak dukungan dari bekas-bekas mahasiswa pengagum dokter von Siebold.
Oine sejak kecil bertekad menjadi dokter, ingin mengikuti jejak ayahnya. Tidak diduga Oine terpaksa menghentikan studinya, karena mengandung. Ia diperkosa oleh seorang pembimbingnya, yang dulu berguru pada ayahnya. Pada 1851 ia melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Tada, artinya gratis.
Setelah melahirkan, ia menyerahkan si bayi pada ibunya dan melanjutkan studi. Tidak mudah semua itu namun berkat tekadnya ia berhasil menyelesaikan studinya. Sejak 1861 ia bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit di Nagasaki. Oine adalah dokter perempuan pertama di Jepang, suatu prestasi luar biasa untuk waktu itu.
Pada 1845 Siebold sendiri menikah dengan Helene Baronnes von Gagern, wanita Jerman dari keluarga ningrat kaya yang 25 tahun lebih muda. Franz von Siebold ketika itu dikenal sebagai pakar Jepang yang dihormati, ia dijuluki Der Japanner. Tetapi hobi dan gaya hidupnya melahap banyak biaya.
Kekayaan istrinya menyelamatkan Siebold dari kesulitan keuangan. Dengan istri Jerman ini Siebold mempunyai 5 anak. Siebold lambat laun meninggalkan dunia kedokteran, namun minatnya pada Jepang tidak juga padam. Selama berada di Eropa Siebold terus berusaha kembali ke negara itu.
Tidak habis-habisnya ia sesumbar bahwa dialah pakar Jepang paling hebat dan oleh karena itu sangat cocok untuk dikirim ke sana. Meski Siebold menjengkelkan, penguasa tidak bisa berbuat banyak, karena dia dilindungi raja Willem II. Raja bahkan pada 1844 menuruti bujukan Siebold dan menulis surat kepada Shogun agar membuka negaranya.
Sepuluh tahun kemudian, pada 1854 Amerika menggedor pintu Jepang dan memaksa negara itu terbuka untuk dunia luar. Pada tahun itu juga Jepang menghapus larangan Siebold masuk ke negara yang ia gandrungi. Setelah terus-menerus mendesak dan merengek, Siebold dikirim ke Jepang pada 1859 mewakili Nederlandsche Handel- Maatschappij, pengganti VOC.
Kembali kita melihat watak jelek Franz von Siebold, ia mengejar tujuannya tanpa mempertimbangkan perasaan dan kepentingan orang-orang di sekelilingnya.
Selama ini ia hidup bersama keluarga atas biaya istrinya, sekarang ia ke Jepang meninggalkan istri dan anak-anaknya tanpa sumber pemasukan. Gajinya selama di Jepang ia pergunakan sendiri. Lebih dari itu ia membawa putra sulung mereka Alexander ke Negeri Matahari Terbit.
Setelah bertahun-tahun saling rindu, ayah dari Jerman dan anaknya di Jepang bisa bertemu. Pertemuan kembali Franz von Siebold dengan Oine penuh emosi dan sangat mengharukan, namun kemesraan itu tidak berlangsung lama. Franz menuntut Oine mengurus dan juga membiayai rumah tangganya. Tuntutan itu ia patuhi, namun suatu saat ia berhenti.
Van der Zijl menulis: ‘Dari korespondensi tidak terbaca sedikit pun perhatian maupun penghargaan Franz atas prestasi, keuletan dan pengorbanan putrinya menyelesaikan studinya’. Oine sangat terluka dengan sikap ayahnya yang selama ini ia kagumi.
Benar awalnya Siebold adalah ahli Jepang yang cukup dikagumi, namun lambat laun reputasinya memburuk. Kehidupan pribadinya juga kacau, untuk kedua kalinya ia menghamili gadis Jepang, pembantu rumah tangganya yang berumur 17 tahun. Ibu remaja dan bayinya ia telantarkan.
Perbuatan ini membuat Oine memutuskan hubungan dengan ayahnya, ia berkarier secara mandiri sebagai dokter hingga pensiun pada 1895. Ia mendirikan rumah sakit bersalin dan membidani lahirnya putra pertama kaisar Matsuhito. Dia tidak sedih barang sedikit pun ketika ayahnya kembali ke Eropa.
Alexander, adik tiri Oine tetap di Jepang dan meniti karier sebagai diplomat. Mereka berdua saling berkontak dan beberapa waktu kemudian Heinrich, adik Alexander juga menyusul ke Jepang. Ia menjadi salah satu arkeolog pertama di Jepang pada masa Meiji (1868–1912). Merekalah yang peduli terhadap nasib anak pembantu rumah tangga yang dihamili oleh ayah mereka.
Cukup mendadak, pada 1866 Franz von Siebold meninggal. Sosok yang tergila-gila Jepang ini tidak pernah menyaksikan betapa perkembangan seni di dunia Barat mengikuti jejaknya. ‘Jepang mengajarkan pada kami puisi dunia kita,’ kata penulis dan desainer perhiasan Prancis, Lucien Falize.
Pengaruh Jepang ini disebut Japonisme, mulai pada 1856 ketika Jepang baru saja membuka pintu setelah digedor Amerika. Seorang litograf Prancis bernama Félix Bracquemond mengamati kertas bekas pengemas porselen dari Jepang. Ia terpesona melihat gambar burung terbang, bunga-bunga merekah warna merah jambu, serangga yang digambar halus dan di sampingnya terdapat tulisan karakter Jepang.
Seni lukis Jepang memengaruhi seniman-seniman impresionis di dunia Barat. Vincent van Gogh, Claude Monet, Edgar Degas adalah beberapa nama seniman Barat penggemar seni lukis Jepang. Salah satu karya Van Gogh yang jelas diilhami seni lukis Jepang adalah ranting almond berbunga.
Oine si putri von Siebold adalah nama termasyhur di Jepang masa kini. Ia menjadi ikon dalam film serial, diperankan dalam pagelaran musik, komik manga dan juga dalam Nintendo-games. Annejet van der Zijl memperkenalkan Franz von Siebold sebagai tokoh dengan ambisi dan obsesi yang berapi-api, serta jalan hidup yang berliku-liku. Sambil lalu kita juga berkenalan dengan latar belakang sejarah dari akhir masa Shogun hingga kekaisaran Jepang.


