Bagian Pertama: De Zwevende Wereld  (Dunia Mengawang) Karya Annejet van der Zijl

Bagian Pertama: De Zwevende Wereld (Dunia Mengawang) Karya Annejet van der Zijl

Bagian Pertama

De zwevende wereld, karya terbaru Annejet van der Zijl (1982),  merupakan biografi ganda penuh emosi tentang Franz von Siebold yang tergila-gila Jepang dan Oine, anak von Siebold, dokter perempuan pertama di Jepang. Annejet van der Zijl adalah penulis non fiksi dengan latar belakang sejarah seni. Baginya, menulis tentang Jepang menjajaki wilayah kerja baru, karena selama ini ia mendalami negara-negara Anglo Saxon.

Philipp Franz von Siebold (1796 – 1866) adalah seorang dokter Jerman kelahiran Würzburg dari keluarga terpelajar. Kakeknya, ayahnya, dan dua pamannya adalah guru besar kedokteran di universitas setempat, maka sudah pasti Franz kecil juga akan jadi dokter. Nasib tidak berjalan mulus, ayahnya meninggal ketika Franz berumur empat tahun.

Janda muda bernama Appolonia Lots ini kemudian mengandalkan kehidupan dan masa depannya pada Franz. Sesuai jalur keluarganya, Franz studi kedokteran, di masa itu profesor Ignaz Döllinger membangkitkan perhatian Franz pada bidang botani dan zoologi. Profesor ini juga yang menuntunnya berjalan di jalur benar.
Franz muda dengan hobi adu pedang atau berduel menganggap dirinya paling hebat. Akibat suka duel, ada bekas-bekas luka di wajahnya, kelak gundiknya di Jepang tiap kali bergidik melihat bekas luka itu.

Franz kemudian menjadi dokter di kampungnya, namun tetap berangan-angan ingin melanglang buana seperti Alexander von Humboldt (1769 – 1859) ilmuwan dan penjelajah Jerman yang dikaguminya. Berkat koneksi almarhum ayahnya, Franz von Siebold dikirim ke Hindia Belanda untuk dipekerjakan sebagai dokter tentara di wilayah jajahan Belanda.

Ketika itu ada wabah kolera di pulau Jawa. Pada September 1822 Siebold bertolak dari pelabuhan Rotterdam dengan kapal De Jonge Adriana menuju Batavia. Perjalanan ini memakan waktu lima bulan, ia mengisi waktu dengan belajar bahasa Belanda. 13 Februari 1823 ia sampai di Batavia.

Foto Siebold + Foto Buku de Zwevende Wereld Karya Annejet van Der Zijl dan Japan, Museum Sieboldhuis Leiden (Sumber: Cor Perrier)
Foto Siebold + Foto Buku de Zwevende Wereld Karya Annejet van Der Zijl dan Japan, Museum Sieboldhuis Leiden (Sumber: Cor Perrier)

Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu adalah Godert baron van der Capellen, teman  studi ayah Franz. Ia mendengar anak teman studinya ada di Batavia dan sakit, ia memindahkannya untuk dirawat di tempat kediamannya yang megah di Buitenzorg [Bogor]. Gubernur jenderal ini terkesan dengan dokter muda yang luwes bertutur, dan tahun itu juga mengirimnya ke Jepang.

Franz von Siebold ditugaskan ke pos perdagangan Belanda di Jepang. Penulis tidak yakin apakah Siebold pernah dengar ada negara bernama Jepang, apalagi pulau Desjima. Ia ditugaskan di pos perdagangan di pulau kecil Desjima yang letaknya di muka pantai Nagasaki. Ukuran pulau buatan itu 233 m x 70 m, tidak lebih dari lapangan de Dam, di Amsterdam.

Penghuninya hanya 20 pria, mereka dilarang membawa wanita Eropa dan dilarang meninggalkan Desjima. Orang Jepang juga tidak bebas keluar masuk pulau itu, hanya pekerja seks dari satu rumah pelacuran tertentu di Nagasaki diizinkan ke sana, mereka disebut oranda-yuki.

Franz muda adalah langganan tetap So’onogi, gadis yang pada umur 15 tahun dijadikan pekerja seks. Franz kagum akan kecantikannya dan jatuh cinta pada Sonogi, begitu dia melafalkan namanya. Awalnya Sonogi jijik pada si kasar biadab berbadan besar, namun si kasar itu cinta betul dan selalu memperlakukannya dengan baik.  ‘Cantik, cantik’, begitu Franz membelai-belai Sonogi. Dari hubungan ini lahirlah Oine, pada 1827.


Kelahiran Oine menyempurnakan kebahagiaan Franz von Siebold, ia mencukupi semua kebutuhan si kecil, dan Sonogi diberi seorang budak bernama Orzon. Di buku ada sebuah foto Orzon mengenakan semacam blangkon, melihat wajahnya bisa diduga ia dari Indonesia. Bocah umur 9 tahun itu telah dibeli oleh Johan van Overmeester di Batavia. Apa latar belakang kisah perbudakannya dan siapa nama anak ini sebenarnya tidak diketahui, hanya diketahui Franz menyebutnya anak Bugi atau Bugis.

Franz von Siebold membawa ilmu kedokteran Barat ke Jepang yang saat itu tertutup dari dunia luar. Pada temannya di Batavia ia menulis: “Saya telah melakukan operasi katarak dan banyak orang Jepang yang sudah sepuluh tahun buta bisa melihat lagi”. Reputasinya  melangit, ia bahkan dijuluki dokter ajaib, ini sampai ke telinga para Shogun.

Banyak mahasiswa Jepang berguru padanya, beberapa di antara mereka sangat setia. Mereka membantu Siebold yang punya hobi mengoleksi berbagai benih tanaman dan setek tumbuh-tumbuhan Jepang. Di pulau itu ia juga membuat taman kecil yang dipelihara oleh mahasiswa-mahasiswanya. Siebold sungguh pandai memanfaatkan orang-orang disekelilingnya.

Atas permohonan atasannya, penguasa di Nagasaki mengizinkan Siebold meninggalkan Desjima untuk melihat kebun-kebun botani. Meskipun dia dikawal dan diawasi dengan ketat ini adalah kesempatan unik, sangat jarang orang asing pada masa itu diperbolehkan masuk Jepang. Minat dan perhatian Franz von Siebold pada flora dan fauna yang pernah ditanamkan oleh profesornya di Würzburg, tidak pernah mengendur.

Pembaca lambat laun juga berkenalan dengan wataknya. Untuk mengoleksi ia tidak hanya mengerahkan mahasiswa-mahasiswanya, tetapi mungkin lebih tepat disebut menyalahgunakan mereka. Selain flora dan fauna ia juga mengumpulkan benda-benda seni dan peta-peta Jepang. Yang terakhir ini membawa petaka.

Pimpinan Belanda di Desjima sangat marah pada Siebold karena ia melanggar hukum dan peraturan negara tuan rumah. Tetapi Siebold, si kepala batu tidak peduli dia tetap melanjutkan hobinya. Pulau itu sampai digeledah, tapi si cerdik Siebold menyembunyikan peta-petanya di tempat yang tidak bisa ditemukan.

Beberapa warga Jepang yang telah membantu Siebold mengoleksi diganjar hukuman. Salah satu di antaranya dianiaya sampai mati karena ketahuan telah memberikan peta pada Siebold. Peta masuk kategori rahasia negara, oleh karena itu Siebold dituduh melakukan kegiatan mata-mata. ia diusir dan seumur hidup tidak boleh masuk Jepang.

Sebelum ia meninggalkan Jepang pada 1829 dia membeli Sonogi agar bebas dari rumah pelacuran. Diusir dari Desjima Siebold ke Batavia, ia tidak menyerah begitu saja melainkan tetap berusaha untuk kembali ke Jepang, namun sia-sia. Akhirnya dia pulang ke Eropa dengan memboyong segudang koleksinya dan tinggal di Leiden. Rumah yang pernah dihuninya itu sekarang adalah Japanmuseum Sieboldhuis.

Foto Siebold + Foto Peta Nagasaki Koleksi Siebold (Sumber: Cor Perrier)
Foto Siebold + Foto Peta Nagasaki Koleksi Siebold (Sumber: Cor Perrier)

Posts Releases

1 2 3 4 5