Begitu bersahaja dia, usahanya sebagai peneliti ia nilai kecil saja. Itulah Rianti Manullang, ilmuwan yang sejak September 2023 meneliti jejak-jejak Indonesia dalam sastra Hindia Belanda di Universitas Leiden. Bidang penelitiannya mempunyai cakupan luas. ‘Bagaimana Indonesia direpresentasikan dalam sastra Hindia Belanda, kebudayaannya, orang-orangnya, alamnya. Segala yang berhubungan dengan Indonesia’, begitu jelasnya pada Voks Radio Amsterdam (16 April 2026).
Sastra Hindia Belanda
Sastra Hindia Belanda yang dalam bahasa Belanda disebut Nederlands-Indische letteren, awalnya didefinisikan sebagai karya-karya sastra dalam bahasa Belanda pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia, atau sastra yang mengangkat tema Hindia Belanda. Namun menurut Rianti Manullang, definisi ini sekarang diperluas, tidak lagi semata-mata yang ditulis di masa Hindia Belanda, karena mungkin saja ditulis di masa kini. Sebagai misal, ia menyebut Lichter dan ik (Lebih Putih Dariku) dari Dido Michielsen yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Buku ini menceritakan kehidupan Isah pada masa Hindia Belanda. Gadis ini adalah anak seorang pembatik yang tinggal di lingkungan kraton Yogyakarta. Si gadis menyadari adanya perbedaan antara dirinya dengan anak-anak sultan. Untuk menjamin masa depannya, ibunya mencari jodoh untuknya, namun Isah yang ketika itu masih bernama Piranti, menolak dan memutuskan meninggalkan rumahnya. Ia memilih tinggal bersama Gey, seorang tentara Belanda, dan menjadi nyai.
Dari hubungan mereka lahir dua orang anak, dan kehidupan keluarga ini berlangsung hingga Gey memutuskan untuk menikah dengan gadis Belanda. Maka jelaslah, pada masa itu, seorang nyai yang tidak dinikahi dan anak-anaknya tidak diakui resmi, tidak punya hak apa pun juga. Buku ini terbit pada 2019.
Istilah sastra Hindia Belanda dicetuskan pada masa kolonial, maka masuk akal kebanyakan karya yang dikaji adalah dari masa itu. ‘Sehingga gaya penulisannya atau ide-ide di dalam novel tersebut kebanyakan masih bersifat kolonial dan sarat dengan istilah oposisi biner. Yang dimaksud dengan oposisi biner adalah, kita membuat pembedaan: kulit hitam-kulit putih; Eropa-Pribumi. Itu baru kategori, kemudian sifat: Eropa superior dan Pribumi inferior,’ begitu jelas Rianti Manullang.
Kemudian ia membacakan cuplikan dari Het leven in Nederlandsch-Indië (Kehidupan di Hindia Belanda) tulisan Bas Veth di tahun 1900-an yang mendeskripsikan pengendali pedati berkulit cokelat mencambuk kuda: ‘Dia benar-benar seperti kera’. Naskah-naskah kolonial serupa itulah yang antara lain memberi motivasi pada Rianti Manullang untuk mendalami sastra Hindia Belanda.
Beberapa karya sastra Hindia Belanda lain adalah Max Havelaar karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker). Buku ini adalah protes terhadap kekejaman kolonialisme dan penderitaan rakyat kecil yang dipandang rendah oleh penguasa. Kemudian De stille kracht (Kekuatan diam), karya Louis Couperus tentang kekuatan mistik di Hindia Belanda yang bertentangan dengan kekuatan rasional.
De tienduizend dingen (Sepuluh Ribu Hal), karya Maria Dermoût tentang keindahan alam di Maluku. Heren van de thee (Sang Juragan Teh), karya Hella Haasse tentang usaha Rudolf Kerkhoven membuka lahan perkebunan teh di Priangan. Buku ini menceritakan rintangan-rintangan yang dihadapi tokoh utama ketika membuka perkebunan teh di Priangan dengan alamnya yang cantik.
Berbeda dari Louis Couperus dan Bas Veth yang lahir dan dibesarkan di Belanda, baik Maria Dermoût maupun Hella Haasse dilahirkan dan dibesarkan di Hindia Belanda. Demikian pula karya-karya sastra Hindia Belanda bisa dibedakan berdasarkan kategori generasi penulisnya. Penulis-penulis dari generasi pertama masih pekat diskursus kolonialnya, baik tentang budaya, orang-orangnya maupun alamnya.
Generasi ini menceritakan indahnya alam Hindia Belanda. Ini disebut juga natuurestetisering; alam indah dan romantis tapi di mana orang-orangnya? Karya-karya sastra Hindia Belanda banyak ragamnya, ada novel, ada catatan perjalanan, meskipun tanpa tokoh, termasuk sastra Hindia Belanda. Penulis mencatat apa yang ia lihat. Misalnya dia melihat ada orang sedang menari atau dia melihat hutan lebat dan gaya penulisannya bisa berbeda-beda. Generasi kedua adalah generasi yang lahir dan dibesarkan di Hindia Belanda seperti Maria Dermoût, Bep Vuyk, dan Hella Haasse. Mereka menulis dengan nostalgia tentang indahnya alam dan kehidupan di Hindia Belanda.
Jejak-jejak Indonesia
Dalam penelitiannya, Rianti Manullang berfokus pada jejak-jejak Indonesia dalam sastra Hindia Belanda. Bagaimana Indonesia direpresentasikan dalam sastra Hindia Belanda yang tidak lagi dibatasi periode masa kolonial dan tidak harus ditulis pada masa itu. Dulu kita bicara tentang Hindia Belanda, sekarang kita bicara tentang Indonesia.
Bas Veth dalam bukunya Het leven in Nederlandsch-Indië [Kehidupan di Hindia Belanda] terbitan tahun 1900 menyebut kusir pedati seperti kera. Hal yang tidak terbayangkan di abad ini. Lichter dan ik [Lebih Putih Dariku], karya Dido Michielsen, oleh Rianti Manullang dipakai sebagai contoh sastra Hindia Belanda yang ditulis di masa kini. Dalam buku ini, kepedihan seorang nyai yang juga adalah ibu dua anak dikisahkan dari sudut pandang sang nyai. Tidak mustahil jika buku ini ditulis di masa kolonial, sudut pandang kisahnya ini akan dilihat dari seorang noni Belanda atau dari tuan Belanda.
Hella Haasse memang menggambarkan Priangan yang cantik dengan alam perawan. Namun, hal yang tidak disampaikan olehnya adalah kehidupan para buruh yang bekerja di perkebunan itu. Di mana suara mereka dan bagaimana hidup mereka?
Melihat perubahan dalam karya-karya sastra Hindia Belanda dari masa ke masa, dapat disimpulkan bahwa sudut pandang berubah sesuai zaman. Meski masa penjajahan sudah lama berlalu, dampaknya masih terasa hingga kini. Sebagai misal, Rianti Manullang menyebut rasa inferior dan cara berpikir kolonial terjadi tanpa kita sadari.
Melalui sastra, orang Belanda percaya peradaban pribumi harus diangkat. Jika bertahun-tahun kita membaca hal yang sama, maka kita tersusupi cara berpikir kolonial. Dalam perjumpaan dengan Voks Radio Amsterdam, peneliti ini mengundang diaspora Indonesia di Belanda untuk menulis, memberi suara dan menyampaikan sudut pandang Indonesia. Dekolonisasi dalam karya-karya sastra menjadi tugas bersama.
Rianti Manullang memberi kesan penuh semangat menggeluti bidangnya, namun demikian ada yang ia sayangkan: ‘Tidak banyak orang Indonesia yang meneliti sastra Belanda, sehingga usaha saya untuk mendobrak cara berpikir seperti melemparkan peluru-peluru kecil terhadap benteng besar yang terbuat dari besi.’ Masa kolonial sudah berlalu, namun cara berpikir kolonial belum berlalu. Hindia Belanda sudah tidak ada, mengapa istilah itu dipertahankan sebagai bentuk sastra? Inilah tantangan bagi (calon-calon) penulis Indonesia di masa kini.
