Het begon met peper (Berawal dari merica), 224 halaman karya Marrit Boogaars, Annemiek de Groot, Juul Lelieveld, Liesbeth Rosendaal. Ilustrasi: Dido Drachman

Het begon met peper (Berawal dari merica), 224 halaman karya Marrit Boogaars, Annemiek de Groot, Juul Lelieveld, Liesbeth Rosendaal. Ilustrasi: Dido Drachman

Hampir 2 juta orang di Belanda punya ikatan dengan Indonesia. Mungkin kamu juga? Demikian kalimat pembuka Het begon met peper [Berawal dari merica]. Buku sejarah Indonesia-Belanda bersampul keras ukuran A4 ini menyampaikan sejarah panjang dan pelik secara jujur. Ilustrasi dan foto-foto yang hidup membuat penyajian visual buku ini sangat menarik. ‘Tiga setengah tahun waktu yang kami butuhkan untuk mempersiapkan buku ini. Kami banyak membaca, mempelajari berbagai dokumentasi, melihat pameran-pameran. Setelah itu kami menyusun buku anak-anak tentang sejarah Indonesia dan Belanda untuk kelompok usia sekitar 11 tahun’, begitu jelas Annemiek de Groot pada Voks Radio Amsterdam (29 Januari 2026).

Tim penulis pada peluncuran buku di Den Haag. Dari kiri ke kanan presentator Roos Visser Marrit Boogaars, Liesbeth Rosendaal, Juul Lelieveld dan Annemiek de Groot
Tim penulis pada peluncuran buku di Den Haag. Dari kiri ke kanan presentator Roos Visser Marrit Boogaars, Liesbeth Rosendaal, Juul Lelieveld dan Annemiek de Groot

Memperkenalkan alam Nusantara dan penduduknya

Het begon met peper terdiri dari 7 bab dan tiap bab membawa tema tertentu, formulanya jelas, menjawab sebuah pertanyaan sederhana dan berangkat dari masa kini. Bab pertama, tentu saja perkenalan dengan negara yang letaknya sangat jauh, 14 jam terbang dari Belanda. Tentang penduduk negara yang terdiri dari ribuan pulau itu, dan tentang kehidupan mereka dari masa ke masa. Lalu pembaca seolah diajak berwisata, melihat pemandangan alam tropis, disuguhi gambar satwa liar seperti harimau, badak, dan juga tumbuh-tumbuhan yang menakjubkan. ‘Tanaman hias sebesar orang’ untuk menjelaskan tanaman hias yang di Belanda ukurannya hanya setelapak tangan, di tempat aslinya berukuran raksasa. Buah-buahan eksotis seperti mangga dan pepaya yang di Belanda hanya ada di pasar swalayan, di Indonesia pohon-pohon buah itu adalah suatu hal yang sangat biasa. Pembaca diperkenalkan pada Nusantara sebelum Belanda datang dan bahwa penduduknya terdiri dari berbagai suku yang memiliki kebudayaan masing-masing.

Dalam bab berikutnya Milan bertanya: ‘Benarkah speculaas adalah kue khas Belanda?’ (speculaas adalah kue rasa pala, kayu manis dan cengkeh) Jawaban pertanyaan itu adalah sejarah sampainya rempah-rempah dari Indonesia ke Belanda. Peperduur (semahal merica) adalah istilah dalam bahasa Belanda yang artinya sangat mahal. Perjalanan kapal dari Belanda pada akhir abad ke-16 dan abad ke-17  sangat lama dan penuh bahaya, namun jika kapal berhasil kembali membawa rempah-rempah ke Belanda, maka ini mendatangkan sangat banyak keuntungan. Inilah sumber kekayaan Belanda di masa VOC, kurun waktu yang ditandai banyak penindasan dan kekejaman terhadap penduduk asli. Tim penulis tidak menghindari sisi-sisi gelap penindasan di zaman kolonial. Jan Pieterszoon Coen melakukan kekejaman luar biasa terhadap penduduk kepulauan Banda untuk mempertahankan monopoli Belanda. Kenyataan sejarah ini disampaikan dengan nada yang sesuai untuk remaja belia dan dilengkapi cuplikan kisah pribadi dari mereka yang mengalami sendiri masa itu.

Sangat mencolok adalah sebuah gambar dari abad ke-17, lukisan keluarga saudagar Belanda bernama Pieter Cnoll dengan pembantunya yang tak lain adalah Untung Surapati, nama yang amat dikenal di Indonesia. Namun bagi banyak orang di Belanda, apalagi bagi murid-murid sekolah Belanda nama itu tidak dikenal apalagi kisahnya. Di halaman sama diceritakan pula bahwa di Batavia kala itu ada perdagangan manusia untuk dijadikan budak.

Lukisan keluarga saudagar Pieter Cnoll pada 1665, di sebelah kanan Untung Surapati
Lukisan keluarga saudagar Pieter Cnoll pada 1665, di sebelah kanan Untung Surapati

‘Guru kakak saya di sekolah lanjutan mengatakan Multatuli adalah salah satu buku terpenting dalam sejarah Belanda. Mengapa?’, begitu pertanyaan Lynn. Kemudian dijelaskan tentang Eduard Douwes Dekker yang menulis tentang kekayaan yang dibangun Belanda di atas kesengsaraan penduduk di Hindia Belanda. Menulis sebagai perlawanan atau usaha memperbaiki keadaan juga dilakukan oleh Kartini dalam suratnya kepada teman-temannya. Pena adalah senjatanya; Kartini menulis perempuan juga berhak sekolah, semua orang harus diperlakukan sama, dan betapa ia menghendaki Belanda berhenti bercokol di Indonesia. Sayang sekali tulisan-tulisannya di kala itu tidak mendapat banyak sambutan di Belanda.

Meski ke sekolah adalah suatu kemewahan, apalagi pada tingkat perguruan tinggi, di awal abad ke-20 ada sejumlah orang Indonesia menuntut ilmu di Belanda. Mereka ini kemudian mendirikan Perhimpoenan Indonesia, dan salah satu anggota terkemukanya adalah Mohammad Hatta yang pada 1921 berangkat ke Rotterdam untuk menempuh studi ekonomi. Sudah dari masa mahasiswanya di Belanda Bung Hatta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Masa perjuangan kemerdekaan Indonesia
Masa perjuangan kemerdekaan Indonesia

Merdeka tetapi tidak bebas

Itulah terjemahan judul sebuah bab menarik dalam buku ini. Di Belanda, Perang Dunia II berakhir pada 5 Mei 1945, ketika Nazi Jerman menyerah, tetapi di Asia perang masih berlanjut, baru pada Agustus 1945 Jepang menyerah. Dan pada saat itulah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika Jepang menyerah, Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia. Kurun waktu ini di Indonesia penuh pertempuran sengit. Cuplikan cerita pejuang kemerdekaan Indonesia, Suhendro Sosrosuwarno: ‘Saya berjuang untuk kebebasan tanah air dan bangsa saya. Kami punya senjata yang kami rampas dari tentara Jepang dan KNIL. Kami tidak punya banyak peluru, kami hanya menembak jika betul-betul harus’. Dengan cuplikan serupa ini, sejarah menjadi kisah manusiawi.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana masa kini di tiap bab menjelaskan kaitan masa lalu dan masa kini. Annemiek de Groot menjelaskan bahwa karena tujuannya adalah membuat buku anak-anak, maka harus disampaikan dengan cara yang tepat. Tim penulis menyampaikan kejadian-kejadian dalam sejarah dan dampak masa penjajahan bagi penduduk asli, secara jujur dan terbuka namun bisa dicerna oleh anak-anak.

Mengundang diskusi

Di banyak kota di Belanda dewasa ini, banyak nama jalan atau nama sekolah yang mudah dimengerti oleh orang Indonesia, misalnya Javastraat, Sumatralaan, Atjehstraat, Mohammed Roemhof, Multatulischool. Sangat banyak lagi nama yang mengingatkan kita pada ikatan sejarah Belanda dengan Indonesia. Selain nama, perkembangan sejarah juga mempengaruhi makanan di Belanda; hampir semua orang di Belanda pernah makan rijsttafel (nasi dengan lauk pauk). Dewasa ini banyak toko dan warung Indonesia di Belanda, padahal toko pertama di Belanda adalah di Amsterdam yang dibuka pada 1926, namanya Toko Samoeaada.

 

Raja Belanda Willem Alexander (1967) ketika pada 2020 mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia memohon maaf pada presiden Joko Widodo atas kekerasan yang dilakukan tentara Belanda selama perang kemerdekaan. Pada 2022 Perdana Menteri Rutte memohon maaf kepada rakyat Indonesia atas kejahatan yang dilakukan tentara Belanda di masa perang. Kemudian ada pertanyaan: Apakah Belanda harus melakukan lebih dari sekadar mohon maaf?

Bubuhan lain yang sangat berharga adalah: ‘untuk dipikirkan lebih lanjut’. Misalnya: Apakah mungkin ada perdagangan yang adil untuk setiap pihak?; atau ‘Mengapa kita di Belanda tidak tahu tentang kesengsaraan penduduk di Indonesia selama Perang Dunia II?’ Pertanyaan-pertanyaan serupa itu mengundang pembacanya berpikir dan berdiskusi.

Guru dan murid-murid berdiskusi, orang tua, kakek nenek yang tadinya tidak pernah berbicara tentang masa sulit ketika berada di Hindia Belanda menceritakan pengalaman mereka pada cucu-cucu. Begitu jelas Annemiek de Groot pada Voks Radio Amsterdam. Buku ini banyak dibeli untuk perpustakaan-perpustakaan sekolah, dan hal yang cukup mencengangkan adalah bahwa buku ini juga banyak dibeli untuk bacaan di rumah-rumah jompo. Annemiek de Groot sangat gembira menerima banyak tanggapan dari orang dewasa, dan penjualannya melampaui dugaan mereka. Het begon met peper sudah memasuki terbitan ke-tiga, 11.500 buku yang dicetak hampir habis terjual. Keistimewaan lain buku ini adalah ilustrasi hidup di tiap halaman yang berhasil membuat buku sejarah ini menjadi pelajaran sejarah yang sangat menarik.

Ilustrator Dido Drachman pada peluncuran buku di Den Haag, ia menceritakan cara kerjanya
Ilustrator Dido Drachman pada peluncuran buku di Den Haag, ia menceritakan cara kerjanya

Posts Releases

1 2 3 4 5