Ketika keluarga Kerajaan Belanda masuk barak militer

Ketika keluarga Kerajaan Belanda masuk barak militer

Masih hangat dalam ingatan kita ketika presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, menggelar kegiatan pembekalan khusus dengan gaya militer bagi para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih di Akademi Militer di Magelang pada 2024. Begitu juga dengan peran militer yang cukup besar dalam berbagai aktivitas sipil, mulai dari urusan pertanian, logistik, transportasi, hingga berbagai program sosial. Tidak heran jika sebagian masyarakat Indonesia merasa begah dan khawatir militer akan kembali mendominasi ruang sipil seperti pada masa Orde Baru.

Presiden Prabowo sedang memberikan pengarahan kepada para menteri dan wakil menteri beserta jajarannya di Magelang, 2024 (Foto: Promed).
Presiden Prabowo sedang memberikan pengarahan kepada para menteri dan wakil menteri beserta jajarannya di Magelang, 2024 (Foto: Promed).

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat Indonesia mengagumi hal-hal yang berbau militer, misalnya memakai seragam loreng, menggunakan atribut militer, memasang pelat kendaraan tertentu, hingga meniru gaya kepemimpinan yang dianggap “tegas” dan “disiplin”. Dalam hal ini, memperkenalkan militer ke ruang publik di Indonesia bukan hal yang sulit, karena ada penerimaan budaya yang cukup kuat.

Perbedaannya menjadi menarik ketika kita menengok Belanda. Di negara ini, batas antara ranah sipil dan militer relatif tegas. Militer tidak mudah muncul dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak banyak simbol militer yang berseliweran di ruang publik. Karena itu, ketika militer tiba-tiba hadir dalam berita nasional melalui figur paling simbolik di negara itu, yaitu keluarga kerajaan, reaksinya jauh lebih besar.

Dalam beberapa bulan terakhir, publik Belanda menyaksikan sesuatu yang cukup mengejutkan. Putri Mahkota Belanda, Catharina-Amalia, menyelesaikan pelatihan militer dasar atau General Military Training (AMO) dan dipromosikan menjadi kopral (corporal). Ia juga resmi menerima baret militernya, simbol bahwa ia telah melewati tahapan latihan yang tidak sekadar seremonial. Amalia mengikuti program Defensity College, yaitu jalur kerja-belajar dua tahun yang dirancang untuk mahasiswa universitas agar dapat menjalani pendidikan militer sambil tetap menempuh pendidikan sipil. Ia melanjutkan studi hukum di Universiteit van Amsterdam sambil menjalani tugas di Kementerian Pertahanan satu hingga dua hari per minggu. Program ini bersifat sukarela dan tanpa gaji.

Tak lama setelah Amalia, giliran sang ibu: Ratu Máxima. Pada usia 54 tahun, Máxima memulai pelatihan untuk menjadi reservist di Angkatan Darat Belanda. Foto resmi yang dirilis Kementerian Pertahanan memperlihatkan Máxima mengikuti latihan menembak, rappelling (turun tebing dengan tali), latihan ketahanan fisik, hingga melompat ke kolam renang memakai seragam tempur lengkap. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia akan memperoleh pangkat letnan kolonel (lieutenant-colonel) dan dapat ditempatkan “di mana pun dibutuhkan”.

Apa itu reservist?

Dalam sistem pertahanan Belanda, reservist adalah personel cadangan yang tidak bekerja penuh waktu sebagai tentara profesional, tetapi tetap menjadi bagian resmi dari organisasi pertahanan. Mereka menjalani pelatihan berkala untuk mempertahankan kemampuan dasar militer dan dapat dipanggil saat negara membutuhkan tambahan tenaga. Posisi reservist sangat beragam: mulai dari penjagaan infrastruktur vital seperti pelabuhan dan bandara, dukungan logistik, tenaga medis, ahli teknologi dan keamanan siber, hingga membantu penanganan bencana seperti banjir.

Dengan kata lain, reservist adalah jembatan antara masyarakat sipil dan militer. Mereka tetap menjalani kehidupan normal sebagai pekerja atau mahasiswa, tetapi sewaktu-waktu bisa menjadi bagian dari respons negara dalam situasi krisis.

Belanda menaikkan anggaran militer dan mengejar target besar 2030

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, kebijakan pertahanan Eropa berubah drastis. Belanda termasuk negara yang melakukan percepatan. Pemerintah meningkatkan belanja pertahanan hingga mendekati €20 miliar demi memenuhi target NATO sebesar 2 persen dari PDB. Kenaikan ini menjadikan Belanda salah satu negara dengan belanja militer per kapita terbesar di Uni Eropa.

Anggaran tersebut digunakan untuk memperkuat kemampuan internal, termasuk menaikkan gaji tentara muda, memperbaiki logistik, serta menambah stok amunisi dan perlengkapan. Di sisi lain, Belanda juga berinvestasi pada sistem persenjataan modern seperti jet tempur F-35, drone Reaper, pertahanan udara, dan pembaruan armada laut termasuk rencana penggantian kapal selam Walrus-class.

Belanja besar tidak berarti apa-apa jika kekurangan personel. Karena itu, Belanda menjalankan ekspansi sumber daya manusia secara agresif dan menargetkan sekitar 100.000 personel pada 2030. Dalam skenario krisis, Belanda ingin memiliki kapasitas “scalable force” hingga 200.000 personel. Pemerintah juga memperluas program “service year” untuk usia 18–27 tahun, mempercepat jalur reservist melalui pelatihan intensif 10 minggu, serta mengembangkan pendekatan baru seperti survei kepada pemuda usia 17 tahun untuk meningkatkan minat bergabung.

Data terbaru menunjukkan tenaga kerja pertahanan Belanda tumbuh hampir 20 persen dalam empat tahun terakhir, dari sekitar 67 ribu orang pada 2022 menjadi hampir 80 ribu pada Desember 2025. Pertumbuhan terbesar terjadi pada reservist, yang kini jumlahnya lebih dari 9.000 orang. Tetapi pemerintah mengakui bahwa angka ini masih belum cukup untuk memenuhi target jangka panjang.

Strategi PR yang efektif?

Langkah Amalia dan Máxima merupakan strategi komunikasi publik yang sangat efektif. Pemerintah Belanda secara terbuka berharap masyarakat berpikir, “kalau ratu bisa, saya juga bisa.” Setelah Amalia bergabung, jumlah pendaftar program Defensity College bahkan sempat dilaporkan melonjak drastis.

Jika Amalia mewakili generasi muda dan jalur pendidikan modern, Máxima menyampaikan pesan bahwa bergabung dalam sistem pertahanan tidak hanya untuk anak usia 18 tahun, tetapi juga bagi warga paruh baya. Ini penting karena batas usia reservist di Belanda adalah 55 tahun, dan Máxima mendaftar tepat saat usianya 54 tahun. Secara simbolik, ia menunjukkan bahwa kontribusi terhadap keamanan negara bisa dilakukan di berbagai tahap kehidupan.

Ekspansi militer Belanda juga mulai menyentuh aspek yang sensitif yaitu perubahan aturan internal. Pemerintah mempertimbangkan melonggarkan kebijakan “zero tolerance” untuk pelanggaran ringan seperti penggunaan atau kepemilikan narkoba, agar tentara tidak langsung dipecat. Alasan utamanya adalah jangan sampai kehilangan personel karena kesalahan kecil, apalagi ketika banyak tentara menghadapi tekanan berat setelah penugasan.

Eropa sedang memasuki fase baru

Selain Belanda, Jerman, Prancis, Denmark, dan Belgia juga melakukan rekrutmen besar-besaran. Denmark bahkan memperluas wajib militer bagi perempuan. Prancis merancang program relawan militer usia muda dengan target puluhan ribu orang per tahun. Semua ini menunjukkan bahwa Eropa sedang memasuki fase baru di mana keamanan bukan hanya urusan tentara profesional, melainkan proyek sosial yang luas.

Yang terjadi di Belanda bukan kebangkitan militerisme klasik, tetapi kebangkitan kesadaran keamanan. Negara yang selama puluhan tahun menikmati stabilitas kini menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah. Anggaran naik, sistem rekrutmen dirombak, reservist dipercepat, bahkan aturan internal mulai dilunakkan.

Fenomena keluarga kerajaan memakai seragam militer menjadi simbol bahwa pertahanan kini sedang “dinormalisasi” sebagai urusan warga negara. Jika dulu keamanan dianggap layanan negara, kini keamanan harus dikerjakan bersama.

Tertarik bergabung dengan Putri Mahkota Amalia dan Ratu Máxima?

Posts Releases

1 2 3 4 5