Tidak ada kesalahan eja pada judul di atas. Babi pangang adalah makanan Chinees-Indisch (China-Indo) yang sangat terkenal di Belanda yang berarti babi panggang. Indo adalah istilah yang mengacu pada keturunan campuran Belanda dan Hindia-Belanda (Indonesia pada masa kolonial Belanda).
Namun ada yang salah dalam penamaan menu makanan tersebut, yang seharusnya babi goreng. Mengapa demikian? Setelah menonton film dokumenter karya Julie Ng ini, kita tahu bahwa masakan tersebut bukanlah dipanggang, tetapi digoreng. Jadi seharusnya babi goreng, yang disiram dengan saus asam manis dan tambahan acar, yang telah disesuaikan dengan lidah orang Belanda.
Dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2026, film dokumenter ini selama Februari dan Maret diputar di sepuluh kota di Belanda termasuk Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam.
Meer dan babi pangang lebih dari sekadar nama makanan, dan film ini lebih dari sekadar film dokumenter.
Julie Ng membuka filmnya dari restoran milik ayahnya sendiri, Golden House, di Kota Rozenburg, Zuid Holland. Ayahnya merupakan imigran yang bermigrasi dari Hong Kong ke Belanda tahun 1975.
Ada adegan kamera masuk ke dapur, ke meja kasir, dan ke ruang makan yang mungkin bagi banyak orang Belanda terasa biasa. Tetapi bagi Julie, ruang itu adalah masa kecilnya karena ia tumbuh di antara suara benturan sodet dan wok, bunyi bel koki tanda makanan siap, dan tumpukan kotak takeaway. Ribuan piring babi pangang lewat di depan matanya, namun ia sendiri hampir tidak pernah memakannya karena itu adalah pekerjaan orang tuanya.
Dalam salah satu bagian awal film, Julie mengenang rasa malunya saat kecil. Ia malu dengan bau restoran, malu dengan makanan China, malu menjadi berbeda; karena itu, ia tidak pernah mengundang teman sekolah ke rumah. Sampai suatu hari seorang teman tiba-tiba masuk ketika keluarganya sedang makan. Teman itu berteriak, “Di sini bau sekali.” Ia menunjukkan bagaimana sesuatu yang normal di rumah bisa terasa memalukan di luar.
Julie juga bercerita tentang ejekan yang ia dengar di luar rumah. Kata-kata rasis menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika ia pulang dan mengadu, orang tuanya hanya berkata, “Biarkan saja, jangan dimasukkan ke hati.” Bagi orang tuanya, bertahan hidup dan bekerja lebih penting. Mereka datang ke Belanda dengan satu tujuan yaitu membangun masa depan yang lebih baik untuk anak-anak.
Film ini tidak menyalahkan orang tuanya, tetapi ia mencoba memahami jarak antargenerasi. Dalam percakapan yang direkam di hari terakhir syuting, Julie duduk berdua dengan ayahnya di meja restoran. Ia tidak menyangka percakapan itu akan begitu emosional. Ayahnya, yang selama ini pendiam, akhirnya berkata, “Aku melakukan semua ini untuk kalian.” Kalimat itu terasa berat karena diucapkan setelah puluhan tahun kerja tanpa henti.
Ada juga adegan ketika Julie berbicara dengan kakaknya. Ia bertanya bagaimana perasaannya jika restoran ditutup. Kakaknya menjawab sedih, karena seluruh hidupnya ada di sana. Namun ketika ditanya apakah ia ingin mengambil alih, jawabannya jelas: tidak. “Dunia katering bukan bidangku.” Bahkan ketika ditanya apakah ia keberatan jika restoran Chinees-Indisch suatu hari hilang dari Belanda, ia mengatakan tidak terlalu, karena ia sendiri tidak benar-benar makan menu tersebut. Bahkan ayahnya sendiri mengakui tidak pernah memakannya.
Film ini juga menyinggung fakta bahwa restoran Chinees-Indisch semakin berkurang. Dulu hampir setiap kota kecil di Belanda memiliki satu restoran dengan lampion merah dan daftar menu panjang. Kini jumlahnya menurun karena sulit mencari staf dan biaya operasional yang meningkat, selain banyak keturunan pemilik yang tidak ingin melanjutkan restoran orang tua mereka. Banyak yang berubah menjadi snack bar atau tutup sama sekali. Jika tren ini terus berlanjut, sebuah bagian dari sejarah sosial Belanda bisa hilang.
Masa depan restoran Chinees-Indisch
Julie mengangkat pertanyaan penting: jika restoran itu hilang, apa yang ikut hilang? Hanya makanan? Atau juga sejarah?
Dalam wawancara, ia mengatakan bahwa sejarah komunitas China di Belanda jarang diajarkan di sekolah. Banyak orang tidak tahu bahwa pelaut dan pekerja China sudah datang sejak awal abad ke-20. Restoran menjadi wajah paling terlihat dari komunitas ini. Selain itu ada dokter, seniman, akademisi, dan pembuat film. Namun mereka jarang muncul di media.
Film ini ingin memberi wajah lain bagi warga China-Belanda. Bukan hanya pemilik restoran dengan aksen khas, tetapi individu dengan pengalaman kompleks. Julie sendiri adalah bagian dari generasi yang mulai bersuara. Ia tidak lagi ingin menyembunyikan identitasnya.
Bagian menarik lain adalah ketika Julie menjelaskan bahwa saus babi pangang ternyata berasal dari Brabant. Bahkan ibunya merasa heran melihat daging yang tenggelam dalam saus manis tersebut. Di sini terlihat bagaimana makanan beradaptasi. Apa yang disebut “masakan China” di Belanda sebenarnya adalah hasil pertemuan budaya China, Indonesia, dan Belanda. Babi pangang menjadi simbol adaptasi itu.
Julie juga mendatangi beberapa koki Indonesia dan mendapati bahwa masakan babi panggang yang ditemukan di beberapa kota Indonesia juga berbeda dengan versi di restoran Chinees-Indisch Belanda. Bahkan, ia juga mendatangi restoran-restoran di Hong Kong yang jelas sangat berbeda. Di Hong Kong, ia juga bertemu dengan ibu kandungnya yang telah bercerai dengan ayahnya sebelum bermigrasi ke Belanda.
Judul Meer dan babi pangang terasa tepat. “Lebih dari sekadar babi pangang” berarti lebih dari sekadar menu populer. Lebih dari sekadar restoran keluarga dan lebih dari sekadar stereotipe yang sudah lama melekat. Penonton diajak melihat keseharian yang selama ini mungkin dianggap biasa, lalu menyadari bahwa di baliknya ada pengorbanan dan sejarah panjang. Kita mungkin menikmati babi pangang selama puluhan tahun tanpa pernah bertanya siapa yang memasaknya, dari mana mereka datang, dan apa yang mereka alami.
Film tersebut juga bukan sekadar film dokumenter; Julie mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Melihat bahwa identitas tidak sesederhana label di menu. Melihat bahwa di balik setiap piring ada cerita keluarga, migrasi, dan usaha untuk diterima dalam masyarakat Belanda.
Sebelum itu, pada 2018, Julie mendirikan Stichting Meer dan Babi Pangang, sebuah yayasan yang berbasis di Belanda dengan tujuan utama mendokumentasikan, melestarikan, dan merayakan kontribusi budaya generasi pertama imigran China-Indo (Chinees-Indisch). Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh Patricia Tjiook-Liem, seorang Tionghoa-Indonesia di Belanda, melalui Yayasan Chinese Indonesian Heritage Center.
Setelah menonton film ini, babi pangang tidak lagi terasa sama. Ia bukan lagi sekadar hidangan dengan saus merah manis dan acar. Ia menjadi pengingat bahwa komunitas China-Belanda dan Tionghoa-Indonesia-Belanda adalah bagian dari masyarakat ini, dengan sejarah lebih dari seratus tahun, dengan kontribusi nyata, dan dengan kisah yang layak didengar.


