Kalau ditanya produk apa dari Indonesia yang tersebar paling luas di dunia? Pasti banyak yang tidak menyangka ia adalah minyak nilam. Bukan hanya tersebar paling luas, tetapi produk ini juga memiliki sejarah yang panjang Indonesia, terutama Aceh, dengan Belanda.
Banyak selebritis dunia memakai produk ini, terutama produk dengan merek ternama. Minyak nilam menebarkan semerbak hampir di seluruh dunia karena menjadi salah satu bahan penting dalam parfum. Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai patchouli oil. Di balik aroma yang khas, nilam punya peran besar karena membuat wangi parfum lebih awet, sekaligus memberi kedalaman aroma.
Nilam bukan hanya sekadar nama tanaman atau minyak, tetapi memiliki akar sejarah kolonial. Nilam berasal dari nama perusahaan Belanda Nederlandsch-Indische Landbouw Maatschappij yang disingkat NILAM, perusahaan yang melakukan penyulingan dan ekspor nilam pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sejak masa itu, nilam dari Nusantara sudah menjadi bagian dari perdagangan minyak atsiri global.
Mengapa minyak nilam penting?
Dalam produk parfum, minyak nilam berfungsi menahan dan memperlambat penguapan aroma, sehingga wangi parfum lebih tahan lama. Artinya, nilam membantu “mengunci” aroma agar tidak cepat menguap. Peran ini sangat penting karena banyak komponen parfum bersifat volatil dan cepat hilang.
Kunci keunggulan nilam ada pada senyawa patchouli alcohol (patchoulol), yang memiliki titik didih tinggi, sekitar 287°C. Karena karakter fisiknya mirip dengan senyawa aroma lain, patchoulol bisa bercampur dengan baik, tetapi pada saat yang sama menahan penguapan. Hasilnya, aroma parfum dilepaskan perlahan (slow release) dan bertahan lebih lama di kulit.
Selain itu, nilam juga membantu membentuk karakter aroma. Banyak parfum terkenal memiliki ciri khas yang tidak mudah diubah karena komposisinya sudah “pas”. Nilam sering menjadi salah satu bahan yang membuat karakter menjadi stabil dan konsisten.
Grasse, ibu kota parfum dunia
Jika berbicara tentang parfum dunia, nama Grasse di Prancis hampir selalu muncul. Kota kecil yang terletak di perbukitan Côte d’Azur ini dikenal sebagai pusat parfum dunia. Selama ratusan tahun, Grasse menjadi tempat berkembangnya keahlian meracik parfum, mulai dari ekstraksi bahan alami hingga seni merangkai aroma.
Grasse bukan hanya kota pabrik parfum, tetapi juga pusat pengetahuan: di sana ada rumah parfum legendaris, pusat pelatihan nez (peracik parfum), museum parfum internasional, hingga jaringan global pemasok bahan baku. Banyak merek besar dunia memiliki keterkaitan langsung dengan Grasse, baik dalam riset, produksi, maupun sejarah aromanya.
Di kota ini minyak nilam memainkan peran penting. Parfum-parfum yang dirancang di Grasse, terutama yang masuk kategori chypre (wangi elegan, kering, hangat, dan sedikit earthy) dan oriental, sering menggunakan nilam sebagai fondasi aroma. Nilam memberi kedalaman, kehangatan, dan daya tahan yang sulit digantikan.
Merek-merek terkenal seperti Chanel, Dior, dan rumah parfum besar lainnya diketahui menggunakan minyak nilam dalam berbagai formulasi. Chanel, misalnya, memiliki sejarah panjang dalam pemanfaatan bahan alami berkualitas tinggi. Dalam parfum ikonik seperti Chanel No. 5, nilam berperan sebagai bagian dari struktur aroma yang membuat parfum tersebut bertahan lintas generasi. Bagi industri parfum Prancis, nilam bukan sekadar bahan tambahan, melainkan komponen strategis.
Indonesia sebagai produsen terbesar dunia
Indonesia adalah produsen dan pemasok terbesar minyak nilam dunia. Produksi global nilam diperkirakan berada di kisaran 1.200–1.600 ton per tahun, dan Indonesia menyumbang porsi yang sangat dominan. Sentra produksi tersebar di beberapa wilayah, terutama Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Dominasi ini adalah modal besar. Namun, selama bertahun-tahun Indonesia lebih dikenal sebagai pemasok minyak mentah (crude patchouli oil). Nilam disuling secara sederhana, lalu diekspor. Nilai tambah terbesar, pemurnian lanjutan, fraksinasi, dan formulasi produk, lebih banyak dinikmati di luar negeri, termasuk di pusat parfum seperti Grasse.
Aceh dan upaya memperbaiki rantai nilai
Aceh dikenal sebagai salah satu penghasil nilam berkualitas tinggi. Namun, Aceh juga pernah mengalami penurunan tajam akibat konflik dan tata niaga yang tidak sehat. Petani sering menghadapi fluktuasi harga ekstrem, sehingga banyak yang meninggalkan nilam.
Dalam satu dekade terakhir, pendekatan baru mulai dibangun. Salah satu contoh penting adalah peran Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala. ARC lahir dari kebutuhan daerah untuk memperbaiki ekosistem nilam: mulai dari riset budidaya, teknologi penyulingan, hingga hilirisasi produk. Pendekatan yang digunakan bersifat kolaboratif, melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat.
Hasilnya mulai terlihat. Wilayah tanam nilam yang sempat menyusut kembali bertambah, dan rantai usaha menjadi lebih terhubung dengan pasar.
Dari minyak mentah ke produk bernilai tambah
Satu hal penting adalah minyak nilam rakyat tidak bisa langsung dijadikan parfum. Minyak mentah bisa mengandung pengotor dan risiko kontaminan, sehingga perlu proses purifikasi agar aman dan memenuhi standar industri.
Melalui pemurnian, kandungan patchouli alcohol dapat ditingkatkan, dan minyak bisa dipisahkan menjadi beberapa fraksi sesuai kegunaan. Dari sini, nilam tidak hanya menjadi bahan parfum, tetapi juga bahan kosmetik, produk perawatan tubuh, aromaterapi, hingga produk kebersihan. Bahkan residu pemurnian masih bisa dimanfaatkan, sehingga mendukung konsep ekonomi sirkular.
Pendekatan ini membuka peluang besar yaitu petani tetap punya pasar ekspor, tetapi industri dalam negeri juga tumbuh dan menyerap sebagian produksi.
Peluang Indonesia ke depan
Ada beberapa langkah realistis yang bisa memperkuat posisi Indonesia yaitu dengan menjaga kualitas dan konsistensi. Pasar global menuntut standar mutu yang stabil dan dapat ditelusuri. Selain itu, memperluas hilirisasi secara bertahap. Tidak semua harus jadi parfum mewah, tetapi high-grade patchouli dan bahan kosmetik sudah memberi nilai tambah signifikan.
Hal penting lainnya adalah memperkuat koperasi dan unit usaha lokal. Ini penting untuk posisi tawar petani dan stabilitas harga. Tidak kalah penting juga membangun identitas nilam Indonesia. Setiap daerah punya karakter aroma berbeda yang bisa menjadi nilai jual.
Yang masih harus ditingkatkan adalah menggarap pasar domestik. Industri kosmetik dan perawatan tubuh Indonesia sangat besar dan bisa menyerap nilam lokal.
Minyak nilam penting bagi Indonesia bukan hanya karena aromanya hadir di parfum dunia, tetapi karena nilam menunjukkan bagaimana satu komoditas bisa menjadi sumber nilai ekonomi yang besar.
Tantangannya kini adalah memastikan bahwa posisi Indonesia sebagai produsen terbesar juga diikuti oleh nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri, sehingga semerbak Indonesia di dunia sejalan dengan kesejahteraan petani dan tumbuhnya industri nasional.
Sekarang periksa kandungan parfum anda, apakah juga mengandung patchouli oil?

