Als de lente komt dan stuur ik jou tulpen uit Amsterdam.[Jika musim semi tiba, kukirim bunga tulip dari Amsterdam untukmu].
Itulah kalimat pertama lagu populer yang dibawakan oleh Herman Emmink pada 1957. Meski lagu itu populer di abad lalu, hingga kini intinya tidak dipermasalahkan. Tentu saja, tulip memang dari Amsterdam! Belanda dan tulip lumrah diucapkan dalam satu tarikan napas, padahal aslinya tulip berasal dari Asia Tengah.
Bukan asli Belanda
Dewasa ini, jika kangen bunga tulip, tidak perlu menunggu datangnya musim semi; di Belanda tulip bisa dibeli hampir sepanjang tahun. Di musim dingin harganya agak mahal, tetapi mulai bulan April harga serangkai bunga tulip cukup murah, di bawah €10. Tulip yang sekarang dipandang sebagai khas Belanda, aslinya berasal dari Iran dan Kerajaan Utsmaniyah (sekarang Turki). Di sanalah tulip tumbuh di alam bebas. Sudah sejak dulu tulip dikembangbiakkan untuk mempercantik taman-taman istana. Tulip dianggap sebagai lambang kesempurnaan, cinta, dan spiritualitas. Nama tulip berhubungan erat dengan turban atau serban yang pada gilirannya berasal dari ‘dulband’, tutup kepala dalam bahasa Farsi.
Seorang ahli botani bernama Carolus Clusius (1526-1609) memperkenalkan tulip pada Belanda dengan menanamnya di kebun botani di Leiden. Ia berhasil mengembangbiakkan tulip aneka warna dan mempelajarinya. Menurut kisah, suatu malam umbi-umbi bunga itu dicuri, lalu dijual oleh si pencuri. Itulah awal mula perdagangan umbi bunga di Belanda. Pengembangbiakan tulip hingga kini terus dilakukan dan Belanda memiliki banyak ahli umbi bunga. Tidak mengherankan ada lebih dari 5.000 hibrida yang merupakan hasil persilangan selama bertahun-tahun dan tercatat lebih dari 150 jenis tulip.
Daya pikat tulip
Meski Belanda adalah negara kecil, bahkan lebih kecil dari Pulau Jawa, namun 15.000 hektare areal tanah dipergunakan untuk pertanian tulip dan 13.000 hektare untuk umbi bunga-bunga lain, seperti narsis, gladiol dan hyacinth serta jenis bunga potong lainnya. Di Belanda tercatat 577 pengembangbiak berbagai jenis umbi bunga dan lebih dari 1.600 pertanian umbi bunga. Hamparan bunga-bunga umbi yang menyerupai permadani warna-warni terdapat di Lisse, Hillegom, Noordijkerhout, dan Bennebroek. Kawasan ini juga terkenal karena keberadaan Keukenhof, mungkin bisa disebut taman bunga paling tersohor di dunia. Taman yang hanya buka dari pertengahan Maret hingga awal bulan Mei ini, tiap tahunnya menarik jutaan turis. Taman ini adalah bagian dari kastil Keukenhof yang dibangun pada 1642 dan diberi nama Keukenhof [keuken berarti dapur; hof berarti halaman]. Nama itu diberikan karena kekayaan flora dan fauna kawasan ini mampu memenuhi kebutuhan dapur istana Teylingen. Pada 1857 ketika seluruh kawasan ini ditata kembali, dua arsitek lanskap Belanda, David Zocher dan Louis Zocher membuat desain taman gaya Inggris. Taman dengan jalur berliku-liku dan pohon-pohon yang ditempatkan secara artistik ini kemudian menjadi pilar taman bunga Keukenhof seperti sekarang.
Mulanya pada 1949, lima tahun seusai PD II, sekelompok petani bunga umbi Belanda berinisiatif mengadakan pameran bunga musim semi. Pameran perdana bunga-bunga musim semi di Keukenhof diselenggarakan pada 1950 dan berhasil menarik 236.000 pengunjung. Taman bunga Keukenhof, selain penting untuk sektor pariwisata, juga merupakan katalog bunga dan tanaman hias Belanda.
Umbi kecil pemasukan besar
Sekarang di Belanda, baik bunga tulip maupun umbinya mudah dibeli di pasar-pasar, kios bunga, pompa bensin, pasar swalayan, dan tentunya juga di toko bunga. Harga tulip tidak terlalu mahal. Mungkin banyak yang tidak percaya jika dikatakan bahwa pada abad ke-17, tepatnya dari tahun 1634–1637, harga umbi bunga tulip sangat mahal. Saat itu Belanda dilanda apa yang disebut ‘tulpenmanie’ [tergila-gila tulip atau demam tulip]; harga umbi tulip bisa senilai harga rumah, apalagi tulip dengan warna menyala dan garis-garis. Ketika itu para pedagang tidak tahu bahwa tulip dengan mahkota bunga bergaris-garis adalah karena terserang virus. Demam tulip ini terjadi saat Belanda berada dalam abad keemasan, ekonomi melambung, dan kebudayaan berkembang. Karena permintaan suatu produk begitu menggila, terjadilah spekulasi, harga tulip naik gila-gilaan, namun pada Februari 1637 perdagangan tulip hancur total. Jika sekarang mobil mewah adalah simbol kekayaan, pada abad ke-17 tulip adalah lambang bangsawan kaya. Meski harganya sekarang tidak lagi selangit, umbi dan bunga tulip serta bunga-bunga umbi lain merupakan sumber pemasukan penting dalam perekonomian Belanda. Menurut Floridata, ekspor bunga potong dan tanaman hias Belanda pada tahun 2025 mencapai €7,2 miliar. Pusat pelelangan bunga terbesar di dunia terdapat di Aalsmeer dan dikelola oleh Royal Flora Holland.
Diplomasi Tulip
Wat mijn mond niet zeggen kan, zeggen tulpen uit Amsterdam [Yang tidak bisa saya tuturkan, dikatakan oleh tulip dari Amsterdam].
Begitu lantun lagu selanjutnya. Tulip bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan. Pada Maret lalu, ketika Amerika Serikat genap 250 tahun, 150.000 bunga tulip dari Belanda dipajang di tengah kota Washington, ibarat kartu ucapan selamat. Mungkin ini bisa menggambarkan: ‘Beginilah indahnya bunga dari Belanda. Semoga pajak impor tidak menjadi kendala’.
Menurut catatan organisasi pengekspor bunga Belanda, Royal Anthos, ekspor bunga potong dan umbi bunga menghasilkan €650 juta tiap tahunnya, dan €120 juta adalah ekspor ke Amerika Serikat. Di luar perayaan ulang tahun, tulip dari Belanda juga banyak terlihat di halaman dan taman-taman di Amerika. Tiap awal musim semi, tampak tulip yang mempercantik kawasan sekitar Gedung Putih. Itulah hadiah dari Belanda untuk tukang kebun Gedung Putih. Singkat kata, inilah diplomasi tulip. Tiap tahunnya, 3.500 kontainer berisi umbi bunga dan tanaman diberangkatkan ke AS dan Kanada.
Tradisi lain adalah tiap menjelang Paskah, Belanda mengirim bunga-bunga untuk menghias Lapangan Santo Petrus sehingga alun-alun ini tampak megah saat Sri Paus mengucapkan ‘Urbi et Orbi’. Banyak orang Belanda menanti-nantikan Sri Paus mengucapkan kalimat dalam bahasa Belanda: ‘Nederland, bedankt voor de bloemen’ [Belanda, terima kasih untuk bunga-bunganya].


