Sipir tua itu pergi. Biasanya setelah makan siang, dia ngobrol denganku. Aku tidak tahu apakah itu diperbolehkan. Untukku sama saja.
Begitu awal buku Winarta yang ditulis oleh Basuki Gunawan pada 1953 dalam bahasa Belanda ketika ia dirawat di sanatorium Laren, sebuah kota kecil di provinsi Belanda Utara. Basuki Gunawan adalah warga Indonesia kelahiran Banyumas, 23 Desember 1929. Di masa mudanya ia ke sekolah guru dan pada masa pendudukan Jepang ia bergabung dengan pasukan gerilya melawan Belanda.
Ketika Indonesia merdeka, Basuki Gunawan adalah angkatan pertama warga Indonesia yang mendapat beasiswa untuk studi di Belanda. Selesai studi sosiologi, ia meneliti kehidupan mahasiswa Indonesia di Belanda untuk menyelesaikan program PhD-nya di Universitas Amsterdam.
Basuki Gunawan kemudian menikah dengan wanita Belanda; hingga akhir hayatnya (2014) ia tinggal di Belanda dan tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia. Tidak banyak karyanya, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Belanda, namun banyak pengamat menilai Winarta sebagai karya sastra berharga.
Untuk buah penanya ini, Basuki Gunawan mendapat penghargaan sastra Reina Prinsen Geerling. Tahun berikutnya, yaitu pada 1954, kisah ini diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah sastra De Nieuwe Stem.
Buku tipis ini mengisahkan niat Winarta ingin balas dendam. Meskipun ia belum sembuh, Winarta bergegas meninggalkan sanatorium karena mendengar berita amat memprihatinkan tentang orang tuanya. Sesampainya di kediaman orang tuanya, tetangga-tetangga bercerita, orang tuanya dibunuh secara kejam oleh musuh karena mereka dituduh sebagai mata-mata.
Mereka sudah dikebumikan. Ia penasaran, menyuruh petugas menggali kembali kuburan orang tuanya. Setelah diusut ternyata pembunuhnya salah alamat. Batin Winarta terguncang, ia bertanya-tanya apa manfaat semua ini. Untuk membalas dendam, ia memutuskan bergabung melawan musuh, padahal dia tidak pernah punya idealisme mendukung, apalagi ambil bagian dalam revolusi. Begitu ia mengambil bagian, Winarta tidak pernah ragu menggunakan kekerasan; bukan hanya terhadap musuh, juga terhadap bangsanya sendiri.
Mungkin lebih tepat dikatakan dia membabi buta menggunakan kekerasan. Ketika seorang yang masih bocah ditangkap karena diduga menjadi mata-mata musuh, langsung ia bunuh. Tanpa peradilan. Atasannya sangat marah atas tindakan ini, namun Winarta menganggap sikap atasannya salah.
Winarta dijuluki si pemberani, tetapi ia sendiri merasa semua itu sia-sia. Dia meninggalkan satuannya dan hidup dengan Ratna, seorang pekerja seks yang sangat cerdas. Dengannya ia bertukar pikiran tentang tujuan hidup. Winarta berhenti berperang, menghentikan kekerasan dan dia menunggu sampai ditangkap musuh. Dan dari penjara itulah Winarta menulis kisahnya, pemikiran dan dialog-dialognya.
Novel pendek ini mengisahkan si aku yang mahasiswa kedokteran berjuang untuk kemerdekaan negaranya. Dalam buku Winarta, tidak satu kali pun Basuki Gunawan menyebut kata Belanda. Ia menulis ‘musuh’ dan ‘prajurit kita’. Pembaca dengan pengetahuan tentang perang melawan penjajah akan menafsir musuh yang dimaksud adalah Belanda.
Kebenciannya pada musuh disebabkan pembunuhan yang telah dilakukan terhadap orang tuanya. Ia bukan membenci musuh karena mereka Belanda, melainkan membenci karena perbuatan mereka.
Dalam buku ini, Winarta berdiskusi dengan komandannya, teman-teman seperjuangan, dan juga penumpang kereta api dalam salah satu perjalanan. Dialog filosofis mendalam dilakukannya dengan Ratna, pekerja seks yang cerdas. Meski cerdas, Ratna memilih profesi ini, karena ia hanya dihargai untuk tubuhnya dan bukan untuk kecerdasannya.
Winarta turut berperang karena tidak mengerti tujuan hidup dan tidak melihat manfaatnya. Ia merasa tidak ada yang mengerti, tentang apa yang membara dalam hidupnya, dan tidak ada yang melihat bahwa kemanusiaan dalam dirinya pudar. Kekejaman, pembunuhan, dan penderitaan ternyata semua itu sia-sia.
Jika demikian, apakah lebih baik bunuh diri? Namun untuk bunuh diri sekalipun harus ada alasan kuat, bukan hanya sekadar untuk lolos dari kehidupan yang sia-sia. Kalau begitu, apakah ada alasan untuk bunuh diri? Pertanyaan ini tidak bisa ia jawab dan oleh karena itu ia membiarkan dirinya ditangkap musuh.
Penulis Belanda Gustaaf Peek dalam pengantarnya mengatakan bahwa penulisan Basuki Gunawan dalam Winarta mengingatkan kita pada Albert Camus, penulis Prancis yang dikaguminya. Albert Camus sendiri dalam karya-karyanya menjajagi absurditas dan kondisi kemanusiaan. Baru pada tahun 2022, Winarta diterbitkan dalam bentuk buku.
Sungguh sayang Basuki Gunawan tidak pernah menyaksikan karyanya terbit dalam bentuk buku. Basuki Gunawan adalah salah satu dari segelintir penulis Indonesia yang menulis dalam bahasa Belanda. Berbeda dengan kalangan intelektual di negara-negara bekas jajahan Inggris dan Prancis yang menulis dalam bahasa bekas penjajah mereka.




