‘sport verbroedert’ [olahraga mempererat persaudaraan] Itulah penjelasan di bawah foto pasangan Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Máxima dengan pasangan Kaisar Jepang Naruhito dan Permaisuri Masako.
Masing-masing pasangan mengenakan selendang kesebelasan sepak bola Belanda dan Jepang. Mereka menonton bersama pertandingan sepak bola Belanda lawan Jepang dari kastil Het Oude Loo, di Apeldoorn, tempat Kaisar Jepang dan Permaisuri bermalam selama lawatan di Belanda.
Masako jelita menjadi Permaisuri
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako berada di Belanda dalam rangka kunjungan kenegaraan dari 17 Juni sampai 19 Juni. Beberapa hari sebelum itu mereka sudah berada di Belanda, menginap di kastil Het Oude Loo, Apeldoorn. Pasangan kekaisaran Jepang ini mengenal kastil dan kawasan hijau rindang, hutan tempat keluarga kerajaan Belanda berburu.
Tahun 2006 Ratu Beatrix mengundang, ketika itu masih putra mahkota, Naruhito dan istrinya Masako ke Belanda untuk kunjungan pribadi. Sebuah undangan dari kepala negara sahabat yang sangat tepat datangnya. Masako Owada sebelum menikah dengan putra mahkota Naruhito adalah mahasiswa cemerlang yang menyelesaikan studi ekonomi di Harvard dengan magna cum laude, menamatkan studi hubungan internasional di Oxford, kemudian bekerja di kementerian luar negeri Jepang.
Ketika kecil Masako sekolah di Moskow, bersama orang tuanya ia tinggal di berbagai negara. Ayah Masako adalah Hisashi Owada, guru besar, diplomat yang dari 2003–2018 adalah hakim di Pengadilan Internasional di Den Haag. Inilah latar belakang keakraban Masako dengan Belanda. Kesempatan meniti karier gemilang ia tinggalkan dan menikah dengan calon kaisar negara matahari terbit.
Namun, protokol dan tata krama istana sangat menekan batin Putri Masako. Sebagai istri putra mahkota ia diharapkan melahirkan anak laki-laki yang akan menjadi penerus, berkali-kali ia mengalami keguguran kandungan, 8 tahun setelah pernikahan, Masako melahirkan seorang bayi perempuan Aiko.
Dengan berlibur ke Belanda Masako sedikit terbebas dari protokol istana yang ketat. Keluarga muda ini bersantai bersama keluarga putra mahkota Willem Alexander, yang tidak beda jauh selisih usianya.
Sisi gelap hubungan Belanda dan Jepang
Hubungan keluarga kerajaan Belanda dan keluarga kekaisaran Jepang akrab. Tidak mengherankan beberapa hari sebelum kunjungan kenegaraan, kaisar Naruhito dan permaisuri Masako sudah berada di Belanda. Kunjungan kenegaraan ini adalah untuk mempererat hubungan kedua negara. Pada hari pertama mereka meletakkan karangan bunga di Monumen Nasional de Dam tempat Belanda tiap tahun memperingatkan para korban perang.
Ketika Jepang pada 1942-1945 menduduki Hindia Belanda puluhan ribu warga Belanda masuk kamp interniran Jepang. Menjadi korban kekerasan, mengalami kelaparan, penghinaan, dan perbudakan seks. Tentara Belanda menjadi tawanan perang, dijadikan romusha, buruh paksa. Ribuan tentara dan 19.000 warga Belanda meninggal. Masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda masih meninggalkan luka dalam bagi masyarakat Indo Belanda.
Menyadari semua itu, Naruhito bertutur kata dengan sangat cermat, mengheningkan cipta untuk mereka yang hingga hari ini masih membawa rasa pedih dari masa lalu. Dengan rendah hati ia belajar dari sejarah untuk menyimpan roh perdamaian.
Hubungan istimewa Belanda Jepang
Hubungan kedua negara ini sudah terjalin sejak 1600, ketika kapal De Liefde mencapai pantai Jepang. Berabad-abad lamanya, Belanda adalah satu-satunya negara Barat yang diperbolehkan berada di Jepang, dengan demikian melalui Belanda Eropa bisa mengintip kehidupan di Jepang yang sangat tertutup dari dunia luar.
Pengetahuan Barat disebut rangaku [studi Belanda]. (link: Newsletter 19 Januari 2026 De zwevende wereld, Newsletter 26 Januari 2026) Hubungan keluarga kerajaan Jepang dan Belanda juga sangat erat. Putri Belatrix -ketika itu masih putri mahkota- berkunjung ke Jepang pada 1963, dan kemudian sebagai ratu pada 1991.
Kaisar Hirohito ke Belanda pada 1971, kemudian putranya Akihito dan istrinya Michiko mengadakan kunjungan kenegaraan ke Belanda pada tahun 2000. Naruhito dan Masako ke Belanda pada 2006 untuk alasan pribadi, pada 2014 Willem-Alexander dan Maxima mengadakan kunjungan kenegaraan ke Jepang.
Tanpa permohonan maaf
Meskipun ucapan Kaisar Naruhito terdengar tulus, kaisar tidak memohon maaf. Menurut undang-undang dasar 1947 yang disusun setelah perang, kaisar adalah lambang negara, tidak punya wewenang politik lagi. Permohonan maaf nasional harus dengan persetujuan kabinet.
Ini adalah peninggalan dari pendudukan Amerika setelah perang. Pada waktu itu diputuskan Hirohito tetap kaisar, karena dikhawatirkan tanpa kaisar, Jepang akan kacau dan tidak bisa dikendalikan. Dengan undang-undang baru itu, tanggung jawab kejahatan perang terletak di pundak para politisi, dan kaisar bebas dari tanggung jawab.
Maka kaisar tidak bebas berbicara; Kaisar Naruhito ketika berada di Belanda tidak mohon maaf atas kekejaman di masa lalu, memang ia tidak punya wewenang untuk itu. Semua tanggung jawab ada di pundak para politisi Jepang yang dikenal konservatif. Lagi pula para pendukung mereka berpendapat Jepang sudah cukup mohon maaf.





