Hortus Botanicus: Tropis Kecil di Tengah Amsterdam

, ,

Hortus Botanicus: Tropis Kecil di Tengah Amsterdam

Di Kota Amsterdam ada Kebun Raya seperti di Bogor loh, tapi lebih mini. Ayo simak tulisan berikut.

“Wow, saya tidak menyangka rumput ini rasanya enak,” ujar seorang wanita paruh baya setelah mencoba sehelai zoethoutgras, atau jeringau Jepang, yang dalam bahasa Latin dikenal sebagai Acorus gramineus Aiton. Di sebelahnya, seorang teman ikut tersenyum setelah mencium aroma suurlemoenmalva, atau geranium lemon, tanaman asal Afrika Selatan yang daunnya mengeluarkan wangi lemon ketika disentuh. “Saya lebih suka yang ini, rasanya segar,” katanya.

Tidak jauh dari mereka, beberapa anak remaja tampak lebih tertarik pada rumah kupu-kupu dan tanaman pemakan serangga. Bagi mereka, Hortus merupakan suatu petualangan kecil melihat kupu-kupu beterbangan dan daun-daun raksasa.

Begitulah kesan pertama ketika masuk ke Hortus Botanicus Amsterdam. Di tengah kota yang sibuk, tiba-tiba kita menemukan ruang hijau yang tenang. Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Sekilas, tempat ini mengingatkan pada Kebun Raya Bogor, tetapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Meskipun Amsterdam memiliki banyak taman bunga, namun Hortus Botanicus ini terasa berbeda karena terasa lebih tenang dan tertata rapi. 

Hortus terletak di kawasan Plantage, tidak jauh dari Waterlooplein. Stasiun metro terdekat adalah Waterlooplein, sehingga tempat ini cukup mudah dicapai dengan transportasi umum. Di sekitarnya ada Artis Zoo, kawasan Yahudi bersejarah, dan National Holocaust Museum, sehingga kunjungan ke Hortus bisa digabungkan dengan perjalanan sejarah dan budaya di Amsterdam Timur. Harga tiket masuk dewasa saat ini €14,75, sedangkan anak usia 5–17 tahun dan pelajar/mahasiswa €7,50. Anak di bawah 4 tahun masuk gratis.

Sejarah Hortus Botanicus

Namun Hortus bukan sekadar taman untuk berjalan-jalan. Tempat ini adalah salah satu kebun botani tua di dunia. Ia berdiri sejak 1638 sebagai Hortus Medicus, yaitu kebun tanaman obat. Pada masa itu, dokter dan apoteker mempelajari tanaman sebagai bagian penting dari pengobatan. Pada masa ini, tanaman tidak hanya dilihat sebagai hiasan tetapi juga berfungsi sebagai sumber pengetahuan dan penyembuhan. 

Bagi orang Indonesia mungkin langsung teringat pada tradisi jamu. Kita mengenal kunyit, jahe, temulawak, sereh, daun sirih, dan berbagai tanaman lain bukan dari laboratorium, melainkan dari dapur, halaman rumah, pasar, dan cerita keluarga. Di Hortus, pengetahuan tentang tanaman diberi nama Latin, disusun, dikatalogkan, dan dipelajari secara ilmiah. Di Indonesia, pengetahuan serupa sering diwariskan melalui ibu, nenek, tukang jamu, atau kebiasaan sehari-hari. Keduanya berbeda bentuk, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa manusia sejak lama bergantung pada tanaman.

Ada Hubungan dengan Kebun Raya Bogor?

Kaitan dengan Indonesia menjadi lebih menarik jika kita membandingkannya dengan Kebun Raya Bogor. Hortus Amsterdam tidak mendirikan Kebun Raya Bogor secara langsung. Tetapi keduanya terhubung dalam sejarah panjang botani Belanda, kolonialisme, ilmu pengetahuan, dan pertukaran tanaman. Kebun Raya Bogor didirikan pada 1817 pada masa Hindia Belanda, dan kemudian berkembang menjadi pusat penting penelitian botani tropis di Asia Tenggara. UNESCO menyebut Kebun Raya Bogor sebagai salah satu kebun botani tertua yang berperan besar dalam pertukaran tanaman dan ilmu pengetahuan, terutama dalam konteks ekosistem tropis. 

Jika Hortus Amsterdam adalah jendela kecil tempat Eropa mempelajari dunia tumbuhan, maka Kebun Raya Bogor adalah salah satu halaman tropis tempat pengetahuan itu diperluas. Kebun ini merupakan bagian dari sejarah kolonial di mana tanaman dipindahkan, dikoleksi, diteliti, lalu kadang diubah menjadi komoditas ekonomi. Rempah, kopi, kina, karet, dan berbagai tanaman tropis lain pernah menjadi bagian dari sejarah besar antara Indonesia dan Belanda.

Koleksi tanaman

Hari ini, Hortus memiliki sekitar 4.000 spesies tanaman di area yang hanya sekitar 1,2 hektare. Angka ini membuatnya terasa seperti dunia kecil yang padat. Dalam satu kunjungan, kita bisa berpindah dari suasana tropis ke gurun, dari tanaman air ke rumah kaca, dari palem tinggi ke tanaman kecil yang nyaris luput dari perhatian. Setiap tanaman seolah membawa paspor sendiri, mulai dari Afrika Selatan, Asia, Amerika Latin, Eropa, dan wilayah tropis lain.

Salah satu bagian yang paling menarik adalah rumah kaca tropis dan rumah kupu-kupu. Di sana, udara terasa lebih hangat dan lembap. Daun-daun besar mengingatkan kita pada halaman rumah di Indonesia yaitu pada bau tanah setelah hujan selain kupu-kupu yang beterbangan bebas.

Rumah Kupu-Kupu di Hortus Botanicus Amsterdam (foto: Hengky Kurniawan)

Hortus masa kini juga berbicara tentang masa depan. Melalui koleksi tanaman, edukasi, konservasi, dan Climate House, pengunjung diajak memahami hubungan antara iklim dan keanekaragaman hayati. Ini penting bagi Indonesia, negara tropis yang sangat kaya biodiversitas tetapi juga menghadapi ancaman perubahan iklim, deforestasi, banjir, panas ekstrem, dan hilangnya habitat.

Tempat Berhenti Sejenak

Selain menikmati koleksi tanaman, Hortus juga menyenangkan karena pengunjung tidak harus terus berjalan. Ada bangku-bangku taman yang disediakan di beberapa sudut, sehingga kita bisa duduk sebentar sambil menikmati suasana hijau, mendengar suara burung, atau sekadar mengamati orang-orang yang lalu-lalang. Di tengah ritme Amsterdam yang sering terasa cepat, Hortus memberi kesempatan untuk melambat. Tempat ini cocok bukan hanya untuk wisata keluarga, tetapi juga untuk membaca buku, mengobrol santai, atau menikmati waktu sendiri.

Pengunjung sedang memilih tanaman yang dijual Hortus Botanicus Amsterdam (foto: Hengky Kurniawan)
Pengunjung sedang memilih tanaman yang dijual Hortus Botanicus Amsterdam (foto: Hengky Kurniawan)

Pengunjung juga bisa beristirahat di kafe yang ada di dalam area Hortus. Setelah berjalan melewati rumah kaca, taman obat, dan rumah kupu-kupu, duduk dengan secangkir kopi atau teh terasa menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Bagi yang ingin membawa pulang sedikit kenangan dari Hortus, tersedia pula toko yang menjual tanaman, buku, kartu pos, dan berbagai cenderamata bertema botani. Membeli tanaman kecil dari Hortus terasa seperti membawa pulang sebagian kecil dari kebun itu ke rumah.