Wanita itu tersenyum lega. Sebut saja Lisa van Bambrugge. “Semoga kedua putri saya senang dengan kacamata ini,” tulisnya saat membalas pesan di Facebook. Sudah dua hari ia berburu kacamata khusus gerhana matahari, tetapi hampir semua toko di Amsterdam kehabisan stok. Padahal gerhana tinggal sehari lagi.
Dengan harga €10 per pasang pun kacamata itu sulit didapatkan, jauh di atas harga normal yang hanya beberapa euro. Grup jual-beli di Facebook mendadak ramai. Setiap ada yang menawarkan kacamata seharga €10, peminat bermunculan dalam hitungan menit. Di Marktplaats, kelangkaan membuat harga semakin liar. Ada yang menawarkan kacamata seharga €20 hingga €50, bahkan seorang penjual di Alkmaar memasang harga €150. Namun, harga tinggi itu belum tentu benar-benar dibayar pembeli; seorang penjual Amsterdam yang meminta €75 mengaku tawaran tertinggi yang diterimanya baru €35.
Fenomena langit itu bahkan menciptakan bisnis dadakan. Getdrezzed, sebuah toko di Almelo, mengambil risiko memesan hampir 50.000 kacamata gerhana. Sebanyak 21.600 kacamata yang tiba pada 10 Agustus langsung habis terjual, sementara 6.000 unit dalam pengiriman berikutnya juga sudah terjual sebelum tiba. Harganya €10 per buah. Pemiliknya mengakui harga pembelian mereka cukup tinggi karena pemesanan dilakukan terlambat; seandainya stok dipesan tiga bulan sebelumnya, keuntungan mereka akan jauh lebih besar.
Bukan hanya uang yang rela dikeluarkan orang. Ada pula yang melakukan perjalanan lintas kota demi mendapatkan sepotong karton berkaca gelap itu. Seorang warga bahkan datang dari Amsterdam ke Eindhoven, perjalanan sekitar 125 kilometer, setelah menghubungi berbagai toko di kotanya tanpa hasil. ANWB sendiri sudah menjual ribuan kacamata secara daring dan kehabisan stok beberapa hari sebelum gerhana.
Semua kegaduhan itu terjadi untuk sebuah fenomena yang berlangsung kurang dari dua jam.
Ketika Bulan “Menelan” Matahari
Gerhana Matahari (solar eclipse) terjadi ketika Bulan melintas di antara Bumi dan Matahari. Bila posisi ketiganya hampir segaris, bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi. Orang yang berada tepat di jalur bayangan inti atau umbra dapat menyaksikan seluruh piringan Matahari tertutup atau gerhana total. Mereka yang berada di wilayah bayangan luar atau penumbra hanya melihat sebagian Matahari tertutup.
Ada kebetulan geometris yang luar biasa di balik fenomena tersebut. Diameter Matahari kira-kira 400 kali lebih besar daripada Bulan, tetapi Matahari juga berada sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. Akibatnya, dari perspektif kita, keduanya tampak hampir sama besar di langit. Ketika posisinya tepat, Bulan yang sebenarnya jauh lebih kecil mampu menutupi Matahari.
Pada 12 Agustus 2026, gerhana tersebut sebenarnya merupakan gerhana Matahari total secara global. Jalur totalitas melintasi bagian utara Rusia, Greenland, Islandia, Atlantik, Spanyol, dan sebagian kecil Portugal. Belanda berada di luar jalur itu sehingga hanya mengalami gerhana parsial.
Dari Belanda, gerhana dimulai sekitar pukul 19.17. Puncaknya terjadi pukul 20.11 dan berakhir sekitar pukul 21.03. Pada maksimum, sekitar 90 persen diameter Matahari tertutup Bulan, atau sekitar 88 persen luas piringan Matahari. Matahari saat itu hanya sekitar 8 derajat di atas horizon barat-barat laut.
Perbedaan antara 90 dan 88 persen ini penting. Dalam astronomi, eclipse magnitude mengukur bagian diameter Matahari yang tertutup. Pada gerhana 2026 nilainya sekitar 0,901. Sementara obscuration menghitung luas piringan Matahari yang tertutup dan nilainya sekitar 88,3 persen.
Pantai, Atap Gedung, hingga Lamaran Pernikahan
Posisi Matahari yang sangat rendah membuat pantai menjadi salah satu lokasi favorit. Bukan karena pantai lebih gelap atau bebas polusi cahaya melainkan karena horizon barat terbuka tanpa gedung dan pepohonan.
Ribuan orang bergerak menuju pantai dan tempat-tempat terbuka. Zuiderstrand di Den Haag dipadati pengunjung. Keramaian juga terlihat di kawasan Zandvoort-Bloemendaal dan sejumlah pantai lainnya. Di Amsterdam, sekitar 900 orang memenuhi rooftop NEMO Science Museum. Pada pukul 20.11, ketika gerhana mencapai puncaknya, ratusan kepala secara bersamaan menengadah ke arah Matahari yang sudah berubah menjadi sabit tipis. Orang bertepuk tangan meriah dan bersiul.
Rooftop Nemo Museum Amsterdam yang dipenuhi warga dan antrian warga yang masih panjang (Foto: Hengky Kurniawan).
Warga Amsterdam memadati Nemo Museum Amsterdam (Video: Hengky Kurniawan).
Di Noordwijk aan Zee terjadi adegan yang lebih romantis. Tepat ketika gerhana mendekati puncaknya, seorang pria berlutut dan melamar kekasihnya. Jawaban sang perempuan disambut tepuk tangan pengunjung pantai. Tepuk tangan juga terdengar di Museumplein Amsterdam dan Zuiderstrand ketika gerhana mencapai maksimum.
Di tempat lain orang menggunakan berbagai cara untuk mengamati fenomena tersebut. Ada yang membawa teleskop berfilter, ada yang menggunakan kacamata gerhana, dan ada pula yang bereksperimen dengan saringan dapur untuk memproyeksikan bentuk sabit Matahari ke permukaan lain. Media juga menemukan orang membawa CD dan pelindung las. Namun, CD, kacamata hitam biasa, atau filter improvisasi tidak aman digunakan untuk menatap Matahari secara langsung. Untuk pengamatan langsung diperlukan pelindung Matahari yang memenuhi standar seperti ISO 12312-2.
Terbesar Sejak 1999
Antusiasme masyarakat mudah dipahami jika melihat kalender astronomi.
Gerhana besar terakhir yang sebanding terlihat dari Belanda pada 11 Agustus 1999. Dari Utrecht, gerhana tersebut mempunyai magnitude 0,938 dan menutupi sekitar 92,9 persen luas piringan Matahari. Gerhana 2026 sedikit lebih kecil, dengan magnitude 0,901, tetapi merupakan gerhana parsial terbesar yang terlihat dari Belanda sejak 1999.
Yang membuatnya semakin istimewa adalah penantiannya sesudah itu. Memang akan ada gerhana parsial lain dari Belanda, termasuk pada 2027. Tetapi untuk gerhana dengan magnitude sekitar 0,90 seperti tahun 2026, masyarakat Belanda harus menunggu hingga 3 September 2081. Pada hari itu magnitude gerhana di Utrecht kembali sekitar 0,901.
Dengan kata lain, bagi banyak orang yang menyaksikan gerhana 12 Agustus lalu, itulah mungkin gerhana parsial sedalam ini yang hanya akan mereka lihat sekali seumur hidup.
Mengapa Belanda Tidak Menjadi Gelap Total?
Angka 88 persen terdengar seolah-olah siang seharusnya berubah menjadi malam. Kenyataannya tidak demikian. Bahkan ketika hanya sekitar 12 persen permukaan Matahari masih terlihat, bagian kecil itu tetap luar biasa terang. Karena itu suasana di Belanda hanya meredup, tidak berubah menjadi malam.
Perbedaannya dengan totalitas sangat besar. Di dalam jalur totalitas di Spanyol dan Islandia, fotosfer Matahari benar-benar tertutup sehingga bagian atmosfer luarnya, corona, dapat terlihat. Di Belanda, fase tersebut tidak pernah terjadi. Bahkan gerhana parsial 99 persen secara visual masih sangat berbeda dengan totalitas 100 persen.
Namun, berkurangnya cahaya ternyata cukup untuk membingungkan penghuni langit lainnya.
Rijksuniversiteit Groningen memasang alat perekam otomatis di 42 lokasi di Groningen dan Friesland untuk mempelajari respons burung. Hasil awal yang diumumkan beberapa hari kemudian menunjukkan registrasi burung kelompok mees atau tit turun sekitar 45 persen, sedangkan merpati dan tekukur turun sekitar 51 persen selama gerhana. Para peneliti menduga sebagian burung menafsirkan berkurangnya cahaya sebagai datangnya senja dan mulai mencari tempat berlindung untuk malam.
Dari Belanda ke Indonesia
Bagi orang Indonesia, gerhana Matahari tentu bukan fenomena asing. Salah satu yang paling terkenal terjadi pada 11 Juni 1983, ketika jalur gerhana total melintasi Indonesia. Gerhana total kemudian kembali melintasi sejumlah wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016. Observatorium Bosscha bahkan mengabadikan gerhana total 1983 dan 2016 dalam seri prangko khusus.
Pada 26 Desember 2019, Indonesia mengalami gerhana Matahari cincin yang jalurnya melewati 25 kota dan kabupaten di tujuh provinsi. Kemudian pada 20 April 2023, gerhana Matahari hibrida terjadi secara global; wilayah Indonesia yang berada di jalur pusat melihatnya sebagai gerhana total, antara lain di Pulau Kisar, sebagian Maluku dan Papua hingga Biak.
Indonesia juga masih akan mendapat pertunjukan serupa. BMKG mencatat jalur gerhana Matahari cincin akan kembali melintasi sebagian Indonesia pada 21 Mei 2031, termasuk Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
Pertunjukan Langit Belum Selesai
Bagi warga Belanda, malam 12 Agustus ternyata belum selesai setelah Matahari tenggelam. Beberapa jam kemudian, langit menghadirkan pertunjukan kedua: hujan meteor Perseids. Dalam kondisi langit yang cerah, meteor-meteor itu terlihat dari berbagai tempat di Belanda. Sejumlah observatorium yang sebelumnya membuka pintu untuk gerhana bahkan melanjutkan malam pengamatan untuk menyaksikan Perseids.







