Kaki-kaki itu melangkah di atas pelat pejalan kaki sementara. Kain lebar dibentangkan di antara pepohonan besar membentuk jalur yang terasa seperti labirin. Tanah di kiri-kanan masih basah setelah hujan lebat mengguyur Wassenaar pagi itu. Selain becek, di beberapa tempat akar pohon juga mencuat dari tanah yang cukup berbahaya jika tersandung.
Hari itu Senin, 17 Agustus 2026. Bukan hari libur di Belanda. Namun hal ini tidak menyurutkan niat warga dan diaspora Indonesia mendatangi Sekolah Indonesia di Den Haag (SIDH) untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang tahun ini berusia 81 tahun.
“Di mana ambil bendera itu?” tanya seorang ibu kepada temannya tentang bendera Indonesia kecil yang diikat di tongkat seperti sedotan plastik yang dapat dikibarkan. Bendera kecil itu memang dibagikan kepada warga yang datang di dekat jalur masuk. Jika tak kebagian, besar kemungkinan ibu itu datang setelah seribu pengunjung pertama. Menurut Pak Alamsyah dari BPKRT KBRI Den Haag, panitia memang hanya menyiapkan 1.000 bendera kecil untuk perayaan kali ini.
Upacara Bendera
Dalam undangan resmi, KBRI Den Haag meminta peserta sudah hadir paling lambat pukul 09.15. Upacara peringatan detik-detik Proklamasi dimulai pukul 10.00. Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung, bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Warga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia (Video: Hengky Kurniawan).
Suasana yang semula riuh perlahan berubah khidmat. Merah Putih dikibarkan oleh para pelajar SIDH, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di tengah lapangan, ribuan orang berdiri tegak mengikuti rangkaian upacara. Pagi itu juga dilakukan mengheningkan cipta dan doa bersama bagi korban bencana alam di Indonesia, khususnya korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Ada sesuatu yang berbeda ketika Indonesia Raya dinyanyikan ribuan kilometer dari Tanah Air. Orang-orang yang sehari-hari bekerja, belajar, dan membesarkan keluarga di Belanda berdiri bersama menghadap Merah Putih. Untuk beberapa saat, halaman SIDH seperti menjadi sepotong kecil Indonesia di Wassenaar.
Selepas upacara, suasana segera berubah. Lagu-lagu Indonesia dan lagu perjuangan terdengar dari panggung. Berbagai kelompok masyarakat menampilkan musik dan tarian Nusantara. Salah satu penampilan khusus tahun ini datang dari kelompok musik Oyandi Papua yang datang langsung dari Jayapura. Tampak pula pasangan artis Indonesia Ari Sihasale dan istrinya Nia Zulkarnaen mendampingi kelompok musik tersebut.
Secara keseluruhan, KBRI mencatat sekitar 3.150 masyarakat dan diaspora Indonesia mengikuti rangkaian peringatan HUT ke-81 tersebut.
Kelompok musik Oyandi Papua menghibur pengunjung (Video: Hengky Kurniawan).
Indonesia dalam Sepiring Makanan
Perayaan 17 Agustus tentu belum lengkap tanpa makanan. Tidak jauh dari lokasi upacara, deretan stan kuliner mulai dipadati pengunjung. Bakso, nasi Padang, nasi rames, aneka jajanan Indonesia hingga kopi Nusantara ditawarkan. Aroma makanan bercampur dengan suara musik dan percakapan dalam bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Belanda, serta berbagai bahasa daerah lainnya.
Di beberapa stan, antrean mengular panjang. Salah satu yang paling mencolok adalah stan kopi Cademo. Sejak upacara selesai hingga menjelang pukul empat sore, pengunjung masih terlihat mengantre.
Pemandangan semacam ini memperlihatkan bahwa bagi diaspora, merayakan Indonesia tidak hanya dilakukan dengan bendera dan lagu kebangsaan. Makanan menjadi semacam jalan singkat menuju rumah yang jaraknya lebih dari 11 ribu kilometer.
Demonstrasi di Balik Pagar
Namun, perayaan hari itu juga memperlihatkan sisi lain dari hubungan Indonesia dan Belanda. Di luar kawasan acara terdapat sekelompok demonstran yang membawa simbol Republik Maluku Selatan atau RMS. Lagu-lagu diputar dan yel-yel diteriakkan sepanjang acara. Suaranya sesekali terdengar sampai ke dalam, meskipun tidak sampai mengganggu jalannya upacara dan pesta rakyat.
Polisi Belanda berjaga di sekitar lokasi, sementara petugas keamanan KBRI juga berada di beberapa titik. Di satu sisi pagar orang-orang merayakan 81 tahun Republik Indonesia; di sisi lainnya terdapat kelompok yang membawa narasi sejarah berbeda mengenai terbentuknya republik tersebut.
Keberadaan mereka justru tanpa disengaja mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia di Belanda bukanlah sejarah yang sepenuhnya selesai.
Kemerdekaan yang Pernah Tidak Diakui
Di sinilah perayaan 17 Agustus di Belanda mendapatkan makna yang berbeda dibandingkan perayaan serupa di banyak negara lain.
Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Belanda tidak mengakuinya dan berusaha mengembalikan kekuasaan kolonial setelah berakhirnya pendudukan Jepang. Konflik bersenjata dan diplomasi berlangsung selama empat tahun, termasuk dua operasi militer yang ketika itu oleh Belanda disebut politionele acties.
Baru pada 27 Desember 1949, setelah Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Ironisnya bagi sebuah cerita tentang perayaan kemerdekaan di Belanda, salah satu upacara penyerahan kedaulatan itu berlangsung di Paleis op de Dam, Amsterdam, disaksikan Ratu Juliana dan Mohammad Hatta.
Perbedaan tanggal itu bertahan puluhan tahun. Pada 2005, Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot menyatakan bahwa Belanda menerima 17 Agustus 1945 sebagai awal kemerdekaan Indonesia secara politik dan moral. Baru pada 14 Juni 2023, Perdana Menteri Mark Rutte menyatakan di Tweede Kamer bahwa Belanda mengakui “sepenuhnya dan tanpa syarat” (volledig en zonder voorbehoud) bahwa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.
Berterima Kasih atau Tidak Berterima Kasih?
Hubungan Belanda dengan lahirnya Indonesia memang mengandung paradoks. Sebelum menjadi sebuah negara, kepulauan yang sekarang bernama Indonesia terdiri atas banyak kerajaan, kesultanan, masyarakat dan wilayah politik. Pemerintahan kolonial Belanda kemudian secara bertahap membawa sebagian besar wilayah tersebut ke dalam satu struktur kolonial bernama Nederlands-Indië atau Hindia Belanda.
Tetapi Belanda tidak pernah menamai koloninya “Indonesia”. Istilah Indonesia sendiri mulai digunakan pada abad ke-19 dan kemudian diambil alih oleh kaum pergerakan nasional sebagai identitas politik. Pada 1920-an nama itu semakin kuat digunakan oleh kaum nasionalis, dan Sumpah Pemuda 1928 menegaskan gagasan tentang satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia.
Republik Indonesia memang mewarisi kerangka teritorial Hindia Belanda. Namun Belanda membentuk sebuah koloni, bukan sebuah bangsa. Bangsa Indonesia dibentuk oleh orang-orang Indonesia sendiri melalui pergerakan nasional, Sumpah Pemuda, perjuangan kemerdekaan, dan kesepakatan untuk hidup dalam satu republik.
Andai Hindia Belanda tidak pernah terbentuk, kita tentu tidak tahu seperti apa peta kepulauan ini sekarang. Apakah akan lahir sebuah negara bernama Indonesia? Bisa jadi muncul beberapa negara dari kerajaan, kesultanan, dan wilayah politik yang berbeda. Jadi, apakah kita harus berterima kasih kepada Belanda atas kebetulan sejarah itu? Pertanyaan itu tentu terdengar ganjil. Sebab wilayah yang kemudian diwarisi Indonesia dibentuk melalui kolonialisme, penaklukan dan penderitaan. Barangkali di situlah letak paradoksnya: Indonesia mewarisi batas-batas sebuah koloni, tetapi justru perjuangan melawan kolonialismelah yang membantu melahirkan kesadaran sebagai satu bangsa.
Karena itulah menyaksikan Merah Putih berkibar pada 17 Agustus di Belanda terasa begitu istimewa. Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi yang dahulu tidak diakui Belanda, ribuan orang Indonesia kini dapat berdiri dengan bebas, menyanyikan Indonesia Raya dan merayakan kemerdekaan di negeri yang pernah berusaha menggagalkannya.








