Setelah orkestra pembuka konser memainkan Arbos, karya komposer Estonia Arvo Pärt, suara sayup paduan suara tiba-tiba menggema di Dominicuskerk, sebuah gereja indah di jantung Amsterdam. Penonton yang semula duduk tenang mulai menoleh, mencari asal suara.
Sekilas terdengar dari belakang gereja, kemudian seperti datang dari atas. Sejumlah orang menengadahkan kepala ke balkon dan langit-langit. Ada yang menoleh ke belakang, ke kiri, lalu ke kanan.
Yang terdengar hanya suara manusia: “ah”, “oo”, dan “hum”. Tidak ada lirik dan, untuk beberapa saat, tidak terdengar alat musik. Sebagian penonton bahkan tampak mengira suara itu berasal dari pengeras suara yang dipasang di langit-langit gereja.
Beberapa menit kemudian, para penyanyi Midsummer Ensemble muncul satu per satu dari belakang gereja. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan ruangan, menghadap penonton sambil terus bernyanyi.
Suara koor terdengar sendu, bahkan nyaris menyayat hati. Padahal yang mereka nyanyikan bukanlah syair, melainkan bunyi-bunyi vokal tanpa kata.
Simfoni “Dari Dunia Baru”, versi Sumatra
Karya tersebut berasal dari Symfonie nr. 9 “Uit de Nieuwe Wereld” atau Simfoni No. 9 “Dari Dunia Baru” karya Antonín Dvořák, salah satu komposer Ceko paling terkenal.
Namun bukan hanya karya Dvořák yang menarik perhatian. Dalam buku program Midsummer Proms tertulis:
versie ‘stemmenorkest Sumatra’, atau versi orkestra suara Sumatra.
Di balik beberapa kata itu tersimpan sejarah kelam Perang Dunia II.
Setelah jatuhnya Singapura ke tangan Jepang pada 1942, banyak perempuan dan anak-anak sipil yang kemudian ditawan dan ditempatkan di kamp-kamp interniran Jepang di Sumatra. Di tengah kondisi yang semakin berat akibat kelaparan, penyakit dan keterbatasan, dua perempuan dengan latar belakang musik, Norah Chambers dan Margaret Dryburgh, mencoba menghadirkan kembali musik klasik yang pernah mereka dengar.
Masalahnya, mereka tidak mempunyai orkestra ataupun alat musik. Solusinya adalah suara manusia dijadikan instrumen.
Chambers dan Dryburgh menyusun kembali dari ingatan berbagai karya klasik, kemudian mengaransemennya untuk empat kelompok suara perempuan. Tidak ada syair. Humming dan berbagai bunyi vokal digunakan untuk menciptakan warna yang biasanya dihasilkan alat musik. Lahirlah Women’s Vocal Orchestra of Sumatra. Salah satu karya yang mereka nyanyikan adalah bagian Largo dari Simfoni No. 9 Dvořák.
Kisah ini juga diceritakan ulang dalam film berjudul “Paradise Road” pada 1997.
Orkestra suara itu mulai dibentuk pada 1943. Konser pertamanya berlangsung pada 27 Desember tahun yang sama. Dalam keadaan serba kekurangan, musik menjadi lebih dari sekadar hiburan sekaligus cara mempertahankan semangat hidup.
Kisah itu ternyata tidak berhenti di Sumatra. Pada peringatan pembebasan Belanda (Bevrijdingsdag) tahun 2020, NPO Klassiek membuat kembali aransemen empat suara berdasarkan versi Dryburgh dan Chambers. Lebih dari 300 penyanyi kemudian mengirim rekaman suara mereka untuk membentuk Virtueel Bevrijdingskoor.
Dan pada musim panas 2026, gema musik itu kembali terdengar di Amsterdam dan Amersfoort melalui Midsummer Ensemble.
Lebih dari 300 penyanyi mengirimkan rekaman suara Simfoni No. 9 “Dari Dunia Baru” versi Sumatra dalam Virtueel Bevrijdingskoor (Sumber: Kanal Youtube NPO Klassiek).
25 Edisi Midsummer Ensemble
Midsummer Ensemble berawal pada 2002. Saat itu kelompok yang masih bernama MidsummerVoices membawakan Petite Messe Solennelle karya Gioachino Rossini. Gagasannya adalah mempertemukan penyanyi dan instrumentalis amatir berpengalaman dalam masa latihan musim panas yang singkat dan intensif, kemudian membawakan karya-karya besar untuk koor dan orkestra.
Midsummer Ensemble memainkan Mozart: Thamos, König in Ägypten (Sumber: Kanal Youtube Midsummer Ensemble).
Tahun 2026 menjadi edisi ke-25, yang dirayakan melalui Midsummer Proms. Konser Amsterdam berlangsung pada 29 dan 30 Agustus di Dominicuskerk. Menurut Sonja Siddré, presenter pada pembukaan acara, program tahun ini sengaja melihat kembali karya-karya yang menjadi bagian perjalanan panjang ensemble sekaligus menghadirkan karya yang selama ini ingin mereka mainkan.
Besarnya produksi terlihat dari buku program, dengan 51 instrumentalis dan 47 anggota koor. Artinya, orkestra dan paduan suara saja melibatkan 98 orang, belum termasuk solis, dirigen dan pendukung pertunjukan lainnya.
Sejak awal, Midsummer dipimpin Jeroen Spitteler, seorang dirigen, penyanyi, komposer dan arranger. Ia pernah mempelajari Bahasa dan Budaya Klasik di Universiteit van Amsterdam, kemudian koordirectie di Conservatorium van Amsterdam bersama Daniël Reuss dan vokal solo di Koninklijk Conservatorium Den Haag. Repertoarnya membentang dari musik Abad Pertengahan hingga komposisi kontemporer.
Dua solis ikut memperkuat edisi tahun ini adalah soprano Nikki Treurniet dan bas-bariton Robert-Jan Agricola. Treurniet pernah menjadi anggota ensemble Staatsoper Hannover selama empat musim dan tampil di berbagai gedung opera dan konser. Agricola, yang juga mempelajari Bahasa Klasik, berpengalaman sebagai penyanyi solo maupun penyanyi koor.
Midsummer Proms 2026 juga melibatkan Tanya Markovska sebagai asisten dirigen, Sonja Siddré sebagai presenter, serta komposer dan arranger Amsterdam Tijmen van Tol, yang membuat aransemen Auld Lang Syne khusus untuk Midsummer Ensemble tahun ini.
Dari Pärt hingga Sibelius
Ketika membaca buku program konser memang seperti perjalanan melintasi beberapa abad sejarah musik. Selain Arbos dan Dvořák, dimainkan bagian dari Die Schöpfung karya Haydn, Rossini, Dido and Aeneas karya Purcell, Thamos, König in Ägypten karya Mozart, Piet Hein Rhapsodie karya Peter van Anrooy, Otche Nash karya Alfred Schnittke, Mis in C Klein Mozart, Hohe Messe Bach, hingga Finlandia karya Jean Sibelius. Konser kemudian ditutup dengan Auld Lang Syne yang sangat indah, hasil aransemen Tijmen van Tol, komposer muda Amsterdam kelahiran 1993.
Auld Lang Syne gubahan Tijmen van Tol (video: Hengky Kurniawan).
Namun dari seluruh pertunjukan itu, bagi saya Dvořák-lah yang paling membekas selain karena versi Sumatra yang terasa sangat dekat.
Sebuah musik yang diciptakan di Amerika pada akhir abad ke-19, kemudian dinyanyikan tanpa instrumen oleh perempuan-perempuan yang ditawan di Sumatra pada masa Perang Dunia II, dan lebih dari delapan dekade kemudian kembali bergema di sebuah gereja di Amsterdam.
Pada saat itulah judul “Dari Dunia Baru” seolah memperoleh makna baru. Musik dapat berpindah melintasi tempat, zaman dan pengalaman manusia tetapi tetap membawa ingatan yang akan dikenang bersamanya.





