Undangan dari Indonesia House Amsterdam (IHA) selalu menarik. Bukan hanya karena acaranya, tetapi juga karena hidangan makanannya. Katering IHA memang tidak pernah mengecewakan, meskipun ruangannya kadang terasa sangat panas, terutama saat musim panas.
Kali ini, tim Voks Radio Amsterdam mendatangi IHA untuk meliput pembukaan pameran seni bertajuk Timelapse Indonesia/The Netherlands: Commemorating 115 Years of Borobudur Temple Restoration. Pameran berlangsung pada 8–16 September 2026, setelah dibuka secara resmi pada 7 September. Hari itu aula IHA masih terasa agak hangat, tetapi tidak sepanas kunjungan kami sebelumnya. Tempat duduk terisi penuh, sehingga peserta yang datang belakangan harus berdiri.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda membuka acara dengan menekankan pentingnya hubungan Indonesia dan Belanda. Hubungan kedua negara memang memiliki sisi kelam pada masa kolonial, tetapi sejarah yang sama juga dapat menjadi landasan untuk membangun dialog dan kerja sama yang lebih setara pada masa kini.
Pemaparan dilanjutkan oleh Marianne Venderbosch, kurator sekaligus salah satu seniman dalam pameran tersebut. Ia menceritakan bagaimana gagasan Timelapse Borobudur bermula dengan mempertemukan seniman Indonesia dan Belanda. Proyek ini pertama kali dipamerkan pada 2025 di Museum Borobudur dan Limanjawi Art House di Magelang, kemudian dibawa ke Amsterdam sebagai kelanjutan pertukaran budaya kedua negara.
Hadir pula A.J.Th. “Guus” van Erp, cucu Theodoor van Erp. Ia memperlihatkan sejumlah foto keluarga yang mendokumentasikan kehidupan dan pekerjaan kakeknya di Indonesia. Theodoor van Erp merupakan insinyur militer Belanda yang memimpin pemugaran sistematis pertama Borobudur pada 1907–1911.
Pembicara terakhir, Marijke Klokke, pensiunan dosen senior Leiden University dan ahli seni serta kebudayaan material Asia Tenggara, menjelaskan sejarah pemugaran Borobudur. Ia juga membahas Beschrijving van Barabudur, publikasi monumental yang disusun oleh N.J. Krom dan Theodoor van Erp. Van Erp menulis bagian yang menguraikan arsitektur dan hasil pemugaran candi tersebut.
Menyelamatkan Borobudur
Borobudur dibangun pada abad kedelapan dan kesembilan di bawah Dinasti Syailendra. Setelah berabad-abad menghadapi hujan, gempa, aktivitas vulkanik, pertumbuhan vegetasi, dan campur tangan manusia, sejumlah bagian bangunan bergeser dan terancam runtuh. Air yang meresap ke dalam struktur menjadi salah satu persoalan terbesarnya.
Pada 1900, pemerintah Hindia Belanda membentuk sebuah komisi untuk merancang langkah penyelamatan. Pemugarannya kemudian dipimpin oleh Theodoor van Erp, yang lahir di Ambon pada 1874. Ia bukan arkeolog dalam pengertian modern, melainkan perwira teknik KNIL yang juga memiliki kemampuan menggambar, memotret, dan mempelajari bangunan kuno.
Pekerjaan dimulai pada 1907. Selama berbulan-bulan, tim pemugaran membersihkan kawasan dan mengumpulkan batu-batu yang berserakan. Mereka mencari pasangan setiap batu, memperkuat bagian yang rawan runtuh, serta membongkar dan menyusun kembali tiga teras bundar beserta stupa-stupanya.
Van Erp tentu tidak bekerja sendirian. Fotografer J.J. de Vink, juru gambar Jawa M. Kartodisastro dan M. Karto, serta banyak pekerja lokal ikut berperan. Keahlian mereka dalam mengenali pola, ornamen, dan pasangan batu sangat penting dalam menyusun kembali bagian-bagian candi.
Salah satu kisah paling menarik adalah rekonstruksi chattra, struktur berbentuk payung bertingkat yang diperkirakan pernah berdiri di atas stupa utama. Van Erp sempat menyusunnya kembali, tetapi kemudian membongkarnya karena bukti mengenai bentuk aslinya dianggap belum memadai. Keputusannya memperlihatkan salah satu dilema dalam konservasi: apakah sebuah monumen harus dibuat tampak utuh, atau dibiarkan tidak lengkap ketika bukti sejarahnya masih diragukan?
Pemugaran 1907–1911 berhasil menyelamatkan banyak bagian Borobudur, tetapi persoalan air dan kestabilan bangunan belum sepenuhnya teratasi. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia dan UNESCO menjalankan pemugaran jauh lebih besar pada 1973–1983. Lima teras persegi dibongkar secara sistematis, batu-batunya diberi nomor, fondasi diperkuat, dan sistem drainase diperbarui sebelum semuanya disusun kembali. Pada 1991, kompleks Candi Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Namun, merawat Borobudur merupakan pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Pelapukan batu, kelembapan, abu vulkanik Merapi, tekanan wisatawan, dan pembangunan di sekitarnya terus menghadirkan tantangan baru.
Borobudur dalam Tafsir Seniman
Pameran Timelapse Borobudur menghadirkan karya 17 seniman Indonesia dan sembilan seniman Belanda. Lukisan, fotografi, video, keramik, patung, instalasi, kayu, batu, dan media campuran memperlihatkan bahwa satu monumen dapat menghasilkan 26 sudut pandang berbeda.
Borobudur dalam pameran ini tidak hanya tampil sebagai bangunan batu. Ia hadir sebagai ingatan, perjalanan spiritual, pengalaman keluarga, dan pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Seniman Belanda Stella van den Eertwegh, misalnya, terkesan melihat masyarakat di sekitar Borobudur yang mayoritas Muslim tetap mencintai monumen Buddha tersebut. Baginya, Borobudur menyimpan nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama. Dalam tiga lukisannya, bentuk bertingkat Borobudur ditafsirkan sebagai gunung spiritual: perjalanan manusia dari dunia yang masih terikat bentuk menuju keadaan tanpa bentuk atau nirwana. Ia bahkan menemukan kemiripan dengan gunung penyucian dalam kisah Dante dari tradisi Barat.
Sementara itu, Shelly Lapré membawa ingatan keluarga ke dalam karyanya. Ia menggabungkan citra stupa, benda yang mengingatkannya pada sang nenek, kertas tua warisan ayahnya dari masa Hindia Belanda, gambar, cap, dan cahaya. Dari kejauhan, karyanya tampak abstrak, tetapi ketika didekati, detail-detail Borobudur mulai terlihat. Masa lalu seakan memperoleh kehidupan baru melalui seni.
Pada akhirnya, kunjungan yang semula dibayangi pikiran untuk memburu makanan enak di IHA ternyata memberikan lebih dari itu. Kami pulang membawa pengetahuan tentang perjalanan panjang penyelamatan Borobudur dan cara para seniman menghidupkan kembali warisan tersebut melalui tafsir yang personal. Perut kenyang karena siomai enak dari Toko Kalimantan, pikiran kenyang oleh pengetahuan baru tentang Borobudur, sementara mata dimanjakan oleh karya-karya seni yang indah.
Liputan Voks Amsterdam di pameran Timelapse Borobudur (sumber: Youtube Voks Amsterdam).












