Suasana ini terasa kuat dalam pameran Names in Our Veins yang dibuka pada 3 September 2026 di Buro Stedelijk, Amsterdam. Pameran ini mempertemukan dua seniman dari generasi yang berbeda, FX Harsono dari Indonesia dan Vincent Ruijters yang lahir dan besar di Belanda.
Keduanya sama-sama berbicara tentang identitas Tionghoa-Indonesia, tetapi mereka datang dari pengalaman yang berbeda. Harsono hidup dan berkarya di Indonesia ketika berbagai pembatasan terhadap warga keturunan Tionghoa masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ruijters berada satu generasi setelahnya. Ia tumbuh di Belanda dan mencoba memahami kembali sejarah keluarganya melalui cerita serta jejak yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.
FX Harsono
Ia lahir di Blitar pada 1949 dan telah berkarya selama lebih dari lima puluh tahun. Pada 1975, Harsono bersama sejumlah seniman lain mendirikan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia, sebuah gerakan yang muncul sebagai kritik terhadap cara pandang seni rupa yang pada saat itu dianggap terlalu sempit.
Bagi kelompok ini, seni tidak harus selalu hadir dalam bentuk lukisan atau patung yang indah. Benda sehari-hari, instalasi, pertunjukan, dan berbagai eksperimen visual juga dapat digunakan untuk membicarakan keadaan masyarakat, kekuasaan, serta persoalan politik yang tengah berlangsung.
Pada masa pemerintahan Soeharto, Harsono dikenal melalui karya-karya yang kritis terhadap kekuasaan dan ketidakadilan sosial. Namun setelah jatuhnya Orde Baru pada 1998, arah karyanya perlahan berubah dan menjadi semakin personal. Ia mulai menggali pengalaman sebagai warga Tionghoa-Indonesia, sejarah keluarganya, serta berbagai peristiwa yang selama bertahun-tahun jarang dibicarakan secara terbuka.
Salah satu bagian yang paling pribadi dalam perjalanan tersebut berkaitan dengan namanya sendiri.
Harsono lahir dengan nama Tionghoa Oh Hong Bun. Nama tersebut digunakannya sampai masa remaja. Dalam iklim politik Indonesia pada masa Orde Baru, ketika pemerintah mendorong kebijakan asimilasi terhadap warga keturunan Tionghoa, nama tersebut kemudian ditinggalkan dan ia menggunakan nama Franciscus Harsono. Puluhan tahun kemudian, nama yang pernah ditinggalkan itu justru kembali hadir dan menjadi bagian penting dalam karya seninya.
Dalam video Writing in the Rain, Harsono berdiri di belakang sebuah bidang kaca sambil menuliskan nama Tionghoanya menggunakan kuas dan tinta hitam. Setelah itu, air mengalir di permukaan kaca dan perlahan menghapus tulisan yang baru saja dibuatnya. Harsono kemudian menuliskannya kembali dan air sekali lagi membuat nama tersebut menghilang.
Jika dilihat sekilas, adegan tersebut terlihat sederhana. Namun setelah mengetahui sejarah di balik nama Harsono, karya itu menjadi jauh lebih kuat. Ada sesuatu yang sangat personal dalam usaha seseorang untuk terus menulis kembali nama yang sebelumnya pernah ditekan, ditinggalkan, atau dihapus dari kehidupan sehari-harinya.
Writing in the Rain kemudian dikenal luas di luar Indonesia. Pada Januari 2018, karya tersebut bahkan diputar pada layar-layar besar di Times Square, New York, melalui program Midnight Moment. Sebuah pengalaman pribadi yang berawal dari sejarah identitas Tionghoa di Indonesia akhirnya muncul di salah satu ruang publik paling ramai di dunia.
Pencarian Harsono terhadap masa lalu tidak hanya berkaitan dengan nama, tetapi juga berhubungan erat dengan sejarah keluarganya, terutama ayahnya.
Ayah Harsono memiliki studio fotografi di Blitar. Pada awal 1950-an, ia ikut mendokumentasikan pencarian dan penggalian korban Tionghoa yang terbunuh pada masa kekerasan akhir 1940-an di Jawa Timur. Foto-foto mengenai tulang belulang dan kuburan tersebut kemudian menjadi bagian dari arsip keluarga Harsono dan telah dilihatnya sejak masih muda.
Bertahun-tahun kemudian, Harsono kembali menelusuri tempat-tempat tersebut dan menjadikannya bagian dari penelitian artistiknya. Dari perjalanan itu kemudian muncul beberapa karya yang berhubungan dengan kuburan, batu nisan, serta nama-nama korban, termasuk Pilgrimage to History dan Rewriting on the Tomb.
Kuburan dalam karya Harsono bukan hanya tempat seseorang dimakamkan. Di dalamnya terdapat nama, tanggal, tulisan, serta tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seseorang pernah hidup dan memiliki keluarga. Ketika kisah tentang orang tersebut tidak lagi banyak dibicarakan, batu nisan terkadang menjadi salah satu jejak terakhir yang masih tersisa.
Vincent Ruijters
Vincent lahir di Den Haag pada 1988 dan kini tinggal di Amsterdam. Ia memiliki latar belakang keluarga Tionghoa-Indonesia dari pihak ibu dan Belanda dari pihak ayah. Ia juga pernah tinggal dan belajar cukup lama di Jepang hingga memperoleh gelar doktor dalam bidang Intermedia Art dari Tokyo University of the Arts.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ruijters banyak menggunakan karya seni untuk menelusuri kembali sejarah keluarganya dan identitas Tionghoa-Indonesia yang diwariskan kepadanya. Pencarian itu tidak hanya berlangsung melalui arsip atau cerita keluarga, tetapi juga melalui perjalanan ke tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan leluhurnya.
Untuk Names in Our Veins, Ruijters membuat karya baru berjudul Kuburan.
Karya tersebut berawal dari perjalanannya ke Pariaman, Sumatra Barat. Ia datang ke sana untuk mencari makam buyut perempuannya yang selama bertahun-tahun tidak lagi diketahui keberadaannya dengan jelas. Perjalanan mencari makam itu kemudian berkembang menjadi sebuah instalasi besar yang menggunakan bentuk-bentuk menyerupai pembuluh darah dan percabangan pohon keluarga.
Di dalam instalasi tersebut juga terdapat unsur visual yang mengingatkan pada batik Peranakan dari Lasem, terutama melalui penggunaan warna merah tua dan pola-pola yang mengalir. Bentuk pembuluh darah sebenarnya sudah muncul dalam sejumlah karya Ruijters sebelumnya dan digunakan sebagai cara untuk membicarakan hubungan keluarga, garis keturunan, serta sesuatu yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, judul Names in Our Veins terasa semakin tepat ketika melihat karya Harsono dan Ruijters secara berdampingan.
Kolaborasi lintas generasi
FX Harsono datang dengan pengalaman seseorang yang pernah mengalami secara langsung tekanan terhadap identitas Tionghoa di Indonesia, sementara Vincent Ruijters datang dari posisi generasi yang lahir di Belanda dan harus menelusuri kembali cerita yang sebagian sudah terputus. Harsono berusaha mengingat kembali sesuatu yang pernah ditekan atau dihapus, sedangkan Ruijters mencoba menemukan sesuatu yang tidak pernah ia alami sendiri tetapi tetap hadir dalam sejarah keluarganya.
Keduanya bertemu pada persoalan yang hampir sama, yaitu nama, keluarga, makam, ingatan, dan pertanyaan tentang hubungan seseorang dengan generasi yang datang sebelumnya.
Pameran ini juga mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh peristiwa besar yang biasanya muncul dalam buku pelajaran. Sejarah juga hidup dalam pengalaman keluarga yang lebih kecil dan sering kali tidak tercatat secara resmi.
Ia dapat tersimpan dalam album foto lama, nama yang tidak lagi digunakan, cerita seorang nenek yang hanya sesekali diceritakan, atau batu nisan yang berada jauh dari tempat anak dan cucunya sekarang tinggal. Hal-hal seperti inilah yang kemudian menjadi penting ketika sebuah keluarga mencoba memahami kembali asal-usulnya.
Pengalaman semacam ini cukup dekat dengan kehidupan diaspora Indonesia di Belanda. Banyak keluarga membawa sejarah yang panjang ketika berpindah dari Indonesia dan membangun kehidupan baru di negara lain. Sebagian cerita masih terus diwariskan, sementara sebagian lainnya perlahan menghilang karena generasi berikutnya tumbuh dengan bahasa, lingkungan, serta pengalaman sosial yang berbeda.
Tidak semua anak atau cucu mengetahui secara rinci dari kota mana kakek-nenek mereka berasal, mengapa keluarga mereka berpindah, atau apa yang mereka alami sebelum datang ke Belanda. Ada pula yang baru mulai mencari tahu ketika orang tua atau kakek-nenek mereka sudah tidak ada lagi.
Di sinilah karya Ruijters terasa relevan bagi generasi diaspora sekarang. Perjalanan ke Pariaman untuk mencari makam buyutnya bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat, tetapi juga usaha untuk menyambungkan kembali bagian dari sejarah keluarga yang hampir terputus.
Sementara itu, karya Harsono memperlihatkan bahwa apa yang sering dianggap sebagai sejarah pribadi sebenarnya sulit dipisahkan dari sejarah politik sebuah negara. Sebuah nama dapat terlihat sebagai urusan yang sangat pribadi, tetapi ketika seseorang harus menggantinya karena kebijakan negara dan tekanan sosial, persoalan tersebut sekaligus menjadi bagian dari sejarah Indonesia.
Itulah yang membuat Names in Our Veins menarik untuk dilihat di Amsterdam. Pameran ini tidak hanya berbicara mengenai Indonesia pada masa lalu, tetapi juga mengenai bagaimana masa lalu terus bergerak bersama orang-orang yang meninggalkan Indonesia dan membangun kehidupan baru di tempat lain.
Beberapa generasi kemudian, cerita tersebut dapat muncul kembali melalui karya seni, foto lama, arsip keluarga, atau perjalanan seseorang ke tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan leluhurnya. Dari pencarian seperti inilah sebuah sejarah keluarga yang nyaris hilang dapat perlahan ditemukan kembali.









