Jam menunjukkan pukul 01.28 dini hari. Sudah lebih dari sepuluh menit saya menunggu nachtbus di halte depan Amsterdam Centraal, bus malam yang menggantikan sebagian layanan metro dan trem setelah lewat tengah malam. Malam itu bus yang saya tunggu hanya lewat sekali dalam satu jam.
Tiba-tiba seorang pria mendekat sambil menuntun sepeda.
“Dua puluh euro saja,” katanya dalam Bahasa Inggris.
“Tidak, terima kasih. Saya masih punya sepeda di rumah,” jawab saya.
Sekilas saya memperhatikan sepeda itu. Kondisinya masih cukup bagus. Dalam perkiraan saya, sepeda bekas seperti itu mungkin masih bisa dijual sekitar €100 melalui Facebook Marketplace atau Marktplaats, platform jual-beli yang populer di Belanda. Tawaran €20 pada pukul setengah dua dini hari membuat saya curiga: jangan-jangan sepeda itu hasil curian.
Kecurigaan seperti itu bukan sesuatu yang aneh di Belanda. Di negeri yang menjadikan sepeda sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, pencurian sepeda menjadi kejahatan yang sangat umum.
Budaya Sepeda di Belanda
Sulit membicarakan Belanda tanpa membicarakan sepeda. Pemerintah Belanda menyebut negara ini memiliki sekitar 22,8 juta sepeda, lebih banyak daripada jumlah penduduknya. Lebih dari seperempat perjalanan dilakukan dengan sepeda.
Data Netherlands Institute for Transport Policy Analysis (KiM) menunjukkan bahwa pada 2022 masyarakat Belanda melakukan sekitar 4,8 miliar perjalanan dengan sepeda, menempuh total 18,2 miliar kilometer. Sekitar 28 persen dari seluruh perjalanan domestik dilakukan dengan sepeda.
Sepeda bukan sekadar alat olahraga atau rekreasi. Anak-anak menggunakannya untuk ke sekolah, orang dewasa untuk bekerja, berbelanja, pergi ke stasiun, bahkan mengantar anak. Di kota-kota seperti Amsterdam dan Utrecht, sepeda terasa seperti perpanjangan kaki.
Budaya ini ditunjang infrastruktur yang luar biasa. Pemerintah Belanda mencatat sekitar 35.000 kilometer jalur sepeda dan jalur cepat sepeda. Di Amsterdam saja, jaringan jalur sepeda terlindungi mendekati 560 kilometer.
Tidak mengherankan apabila Belanda sering dianggap sebagai salah satu negara paling ramah sepeda di dunia. Dalam Copenhagenize Index 2025, Utrecht bahkan berada di peringkat pertama kota paling ramah sepeda dunia, sementara Amsterdam berada di urutan keempat.
Dengan kata lain, jika ada tempat di dunia yang dibuat agar manusia nyaman bersepeda, Belanda adalah salah satunya.
Surga Sepeda, Surga Pencuri
Namun, banyaknya sepeda juga menciptakan pasar yang menggiurkan bagi pencuri.
Data CBS menunjukkan 86.950 pencurian sepeda tercatat oleh polisi sepanjang 2025. Angka itu saja berarti rata-rata hampir 240 kasus setiap hari. Tetapi jumlah sebenarnya jauh lebih besar.
Survei Veiligheidsmonitor 2025 dari CBS menunjukkan bahwa 4,9 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas mengatakan menjadi korban pencurian sepeda dalam setahun terakhir. Yang menarik, hanya sekitar 39 persen kejadian pencurian sepeda yang dilaporkan secara resmi kepada polisi.
Gambaran skalanya terlihat lebih jelas dari penelitian CBS untuk 2023. Tahun itu diperkirakan sekitar 970.000 sepeda dicuri. Setelah sepeda yang dicuri bersamaan dengan pembobolan rumah dan sepeda yang kemudian ditemukan kembali dikeluarkan dari perhitungan, jumlahnya masih sekitar 928.000 unit. Kerugian masyarakat akibat pencurian sepeda diperkirakan mencapai €698 juta.
Sepeda listrik atau e-bike juga menjadi sasaran menarik. Nilainya bisa mencapai ribuan euro. Kepolisian Belanda pernah memperingatkan adanya kelompok kriminal internasional yang mencuri e-bike dalam skala besar untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Dalam satu kasus, sebuah jaringan kriminal bahkan mencuri sepeda listrik berdasarkan pesanan, mengganti nomor rangka, lalu mengirimkannya ke Polandia.
Saya pernah berbicara dengan seorang anggota polisi di Belanda. Menurutnya, polisi mengetahui adanya jaringan yang membawa sepeda curian ke luar negeri. Bahkan menurut informasi yang ia ketahui, ada yang dikirim menggunakan kapal ke Afrika.
Saya tidak dapat memverifikasi secara independen bagian cerita tentang Afrika tersebut. Namun kasus-kasus yang ditangani kepolisian menunjukkan bahwa pencurian sepeda tidak selalu dilakukan pencuri oportunistis yang sekadar membutuhkan uang untuk satu malam. Sebagiannya telah berkembang menjadi bisnis kriminal terorganisasi.
Mengapa Sepeda Sulit Kembali?
Di media sosial beberapa kali beredar video orang memotong rantai atau kunci sepeda dengan cukup santai di ruang publik. Orang-orang di sekitarnya terkadang hanya melihat. Bagi pencuri berpengalaman, proses mengambil sebuah sepeda dapat berlangsung sangat cepat.
Masalah berikutnya muncul setelah sepeda hilang.
Polisi tetap meminta korban membuat laporan. Nomor rangka atau chip sepeda yang dilaporkan akan masuk ke fietsdiefstalregister, register nasional sepeda curian. Jika suatu saat sepeda ditemukan, polisi dapat menghubungkannya kembali dengan pemiliknya. Register ini juga membantu polisi mendeteksi perdagangan barang curian.
Namun membuat laporan tidak berarti polisi akan segera membuka penyelidikan khusus untuk mencari satu sepeda. Ini karena keterbatasan personel kepolisian.
Investigasi Pointer yang dipublikasikan pada Agustus 2026 menemukan bahwa pada 2025 polisi Belanda menghentikan lebih dari 67.500 penyelidikan karena kekurangan kapasitas. Jumlah itu meningkat 169 persen dibandingkan 2020. Bahkan kasus-kasus yang jauh lebih serius seperti penganiayaan berat, pembobolan rumah, dan ancaman.
Kepala Kepolisian Oost-Nederland Gert Veurink mengatakan polisi membutuhkan sekitar 1.500 personel tambahan dalam tiga tahun. Pemerintah merespons dengan menyiapkan tambahan dana €114 juta untuk memperkuat kapasitas kepolisian.
Jika tindak kriminal yang melibatkan kekerasan saja harus bersaing mendapatkan waktu penyidik, mudah memahami mengapa satu sepeda yang hilang sering berada jauh di bawah daftar prioritas.
Ironi Negeri Sepeda
Negara ini mungkin salah satu tempat terbaik di dunia untuk bersepeda. Jaringan jalurnya luas, fasilitas parkirnya besar, dan sepeda telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi justru karena sepeda begitu banyak, mudah ditemukan dan memiliki nilai ekonomi, pencurian berkembang menjadi persoalan besar.
Kembali ke halte Amsterdam Centraal malam itu, saya tidak pernah tahu dari mana pria tadi mendapatkan sepeda yang ditawarkannya seharga €20. Bisa saja sepeda itu memang miliknya.
Namun polisi Belanda sendiri mengingatkan bahwa sepeda bagus yang ditawarkan dengan harga tidak masuk akal seharusnya menimbulkan kecurigaan. Membeli barang yang seharusnya dapat diduga sebagai hasil curian dapat dikategorikan sebagai heling atau penadahan.
Beberapa menit kemudian, pria itu pergi sambil membawa sepedanya, mungkin mencari calon pembeli lain.
Saya tetap menunggu bus.
Dan malam itu saya merasa telah melihat sisi lain dari negeri sepeda. Di Belanda, persoalannya bukan hanya bagaimana memiliki sepeda, tetapi juga bagaimana memastikan besok pagi sepeda itu masih berada di tempat kita menguncinya.








