“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku”
“Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku”
…
Itulah sepotong bait lagu “Indonesia Raya”, lagu kebangsaan Republik Indonesia. Setiap anak Indonesia harus menghafal lagu ini dalam upacara bendera. Belakangan ini kita juga melihat tim sepakbola nasional Indonesia hasil naturalisasi menyanyikan lagu ini di layar kaca.
Kebanyakan orang Indonesia mengenal W.R. Soepratman sebagai pencipta lagu ini. Siapa dan bagaimana sosok W.R. Soepratman yang dituangkan dalam film WAGE?
Pamflet sekaligus undangan acara pemutaran film (Sumber: PBI Fusion Arts).
Film WAGE (2017) yang mengangkat perjalanan hidup pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman, diputar di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Voks Amsterdam berkesempatan menghadiri pemutaran film yang diselenggarakan oleh PBI Fusion Arts (Paguyuban Budaya Indonesia) tersebut. Namun, kegiatan yang bertujuan mengenang perjuangan sang komponis ini turut diwarnai keberatan dari pihak keluarga besar W.R. Soepratman di Indonesia.
Pemutaran berlangsung di Sumatrazaal, Museum Bronbeek, sebuah tempat yang memiliki hubungan erat dengan sejarah kolonial Belanda di Indonesia. Film berbahasa Indonesia dengan teks bahasa Inggris ini diputar secara gratis sebagai bagian dari kegiatan kebudayaan untuk memperkenalkan sejarah perjuangan Indonesia kepada masyarakat di Belanda.
W.R. Soepratman dan Lahirnya Indonesia Raya
Wage Rudolf Soepratman (1903–1938) merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Selain dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya, ia juga seorang wartawan dan pemain biola yang menggunakan musik serta tulisan untuk menyuarakan semangat kebangsaan.
Semasa muda, Soepratman memperoleh pendidikan musik, antara lain melalui kakak iparnya, Willem Maurits van Eldick. Ia pernah bergabung dalam kelompok musik jazz Black and White sebelum semakin aktif dalam gerakan nasional. Pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar Sin Po membawanya berhubungan dengan berbagai tokoh pergerakan kemerdekaan.
Puncak kontribusinya terjadi pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, di Batavia, ketika lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya diperdengarkan dengan iringan biola. Lagu tersebut kemudian menjadi simbol persatuan bangsa Indonesia yang saat itu masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
W.R. Soepratman meninggal dunia pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Film WAGE: Perjuangan Melalui Musik
Film WAGE disutradarai John de Rantau dan diproduksi oleh Opshid Media. Film berdurasi sekitar dua jam ini menampilkan Rendra Bagus Pamungkas sebagai W.R. Soepratman.
Berbeda dengan film perjuangan yang menonjolkan pertempuran bersenjata, WAGE menggambarkan perjuangan melalui musik, jurnalisme, dan keterlibatan dalam organisasi pergerakan nasional.
Film ini mengikuti perjalanan Wage sejak masa muda, keterlibatannya dalam dunia musik, hingga aktivitas politik yang membuatnya berhadapan dengan aparat kolonial. Salah satu konflik utamanya adalah pengejaran Wage oleh seorang polisi Belanda bernama Fritz.
Melalui pendekatan dramatik, sutradara berusaha menggambarkan bagaimana sebuah lagu dapat menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Namun, sejumlah adegan dalam film justru memunculkan kontroversi karena dianggap tidak sesuai dengan catatan sejarah.
Cuplikan film WAGE (Sumber: Dario Turk).
Keberatan Keluarga Besar W.R. Soepratman
Menjelang pemutaran di Arnhem, Voks Amsterdam menerima dokumen keberatan melalui Dario Turk, pendiri dan pembina Yayasan Wage Rudolf Soepratman–Meester Cornelis Jatinegara (YWRS–MCJ). Dario merupakan suami Endang W.J. Turk, Ketua Umum Yayasan sekaligus cicit Ngadini Soepratini, kakak kandung W.R. Soepratman.
Dalam surat tertanggal 6 Oktober 2026, Yayasan menyampaikan keberatan kepada Direktur Museum Bronbeek, Ketua PBI Fusion Arts, dan Duta Besar Republik Indonesia di Den Haag.
Menurut pihak keluarga, film tersebut bukan biografi faktual, melainkan fiksi sejarah yang mengandung sejumlah penyimpangan.
Salah satu keberatan menyangkut adegan kekerasan yang dilakukan ayah Wage terhadap anaknya. Keluarga menyatakan penggambaran tersebut bertentangan dengan kesaksian bahwa Soepratman justru sangat disayangi keluarganya.
Persoalan lain adalah tempat kelahiran Wage. Film menggambarkan Somongari, Purworejo, sebagai tempat kelahirannya. Sementara itu, Yayasan menyatakan bahwa Soepratman lahir pada 9 Maret 1903 di Meester Cornelis, sekarang Jatinegara, Jakarta Timur. Perbedaan mengenai tempat dan tanggal kelahirannya memang telah lama menjadi perdebatan sejarah.
Keluarga juga mempertanyakan adegan penangkapan Wage oleh polisi kolonial di Somongari, penggambaran hubungan spiritual tertentu, perubahan lirik dan notasi lagu Matahari Terbit, serta adegan penghentian permainan biola oleh kelompok bersenjata dalam Kongres Pemuda II.
Keberatan ini bukan pertama kalinya disampaikan. Pada Maret 2024, Harian Disway memberitakan penolakan keluarga terhadap rencana pemutaran film dalam rangka Hari Musik Nasional. Setelah menonton bersama di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, pada 26 September 2024, pihak keluarga kembali menyampaikan protes. Pada Oktober 2024, Okezone juga memberitakan permintaan keluarga agar penayangan film dihentikan.
Dalam dokumen resensinya, keluarga menyatakan bahwa John de Rantau, ketika berdiskusi seusai pemutaran tahun 2024, mengakui tidak berkonsultasi dengan keluarga selama penggarapan film dan menggunakan sejumlah adegan fiktif. Pernyataan tersebut merupakan keterangan pihak keluarga dalam dokumen keberatan.
Untuk pemutaran di Belanda, Yayasan meminta agar penonton diberi penjelasan bahwa film tersebut merupakan fiksi sejarah, keberatan keluarga disampaikan secara terbuka, serta dilakukan dialog dengan penyelenggara.
Tanggapan PBI Fusion Arts
Menanggapi keberatan tersebut, PBI Fusion Arts menyampaikan klarifikasi tertulis. Menurut penyelenggara, surat keberatan baru diketahui beberapa jam sebelum pemutaran dimulai.
PBI menyatakan telah menampilkan keberatan keluarga melalui slide dan memberikan penjelasan kepada penonton sebelum film diputar.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa WAGE merupakan film fiksi sejarah, bukan dokumenter. Karena itu, berbagai adegan harus dipahami sebagai interpretasi artistik pembuat film, bukan seluruhnya sebagai rekonstruksi peristiwa faktual.
PBI juga menyatakan telah memperoleh izin pemutaran dari Opshid Media selaku produser. Menurut penyelenggara, kegiatan tersebut bersifat nonkomersial dan dimaksudkan untuk mengenang jasa Soepratman sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air menjelang peringatan Sumpah Pemuda.
Penyelenggara menghargai keberatan keluarga, tetapi menjelaskan bahwa keputusan mengubah atau memotong adegan film berada di luar kewenangan mereka.
Antara Kebebasan Berkarya dan Ketepatan Sejarah
Pemutaran WAGE di Museum Bronbeek memperlihatkan bagaimana sebuah karya seni dapat membuka kembali perdebatan mengenai penulisan dan penafsiran sejarah.
Di satu sisi, film sejarah membutuhkan ruang kreativitas untuk menyampaikan cerita secara menarik. Di sisi lain, ketika film mengangkat tokoh nasional yang benar-benar pernah hidup, muncul tanggung jawab untuk membedakan fakta sejarah dari dramatisasi.
Bagi masyarakat Indonesia di Belanda, khususnya generasi muda diaspora, pemutaraan film dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah bangsa.
Simak juga dua liputan Voks Amsterdam di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda:









