Di kuartal ketiga 2026, produksi industri dan penjualan ritel meningkat, sementara tekanan harga energi, ketidakpastian usaha, dan pelonggaran pasar tenaga kerja tetap menjadi perhatian utama.
PDB kuartal kedua tumbuh 0,6 persen dibandingkan kuartal pertama, lebih tinggi daripada estimasi awal 0,4 persen. Revisi tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan ekspor dan konsumsi rumah tangga yang meningkat lebih tinggi. Namun, pada September, sembilan dari 13 indikator dalam business cycle tracer masih berada di bawah tren jangka panjang. Artinya, perbaikan aktivitas belum sepenuhnya membawa ekonomi kembali ke kondisi normal.
Dunia Usaha Mulai Bergerak
Keyakinan bisnis (business confidence) pada awal kuartal ketiga meningkat menjadi minus 5,3, dibandingkan minus 14,8 pada kuartal sebelumnya. Pemulihan ini terjadi di hampir seluruh sektor, meskipun penilaian pengusaha secara keseluruhan masih negatif. Sektor informasi dan komunikasi mencatat angka positif 4,6, sementara akomodasi dan makanan berada di minus 19,5. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa peluang dan tantangan usaha tidak tersebar secara seragam.
Di balik membaiknya keyakinan, sekitar 78 persen perusahaan melaporkan peningkatan ketidakpastian ekonomi selama setahun terakhir. Faktor geopolitik menjadi penyebab yang paling banyak disebut. Di antara perusahaan yang menghadapi ketidakpastian lebih tinggi, 22 persen mengurangi atau menunda investasi, sedangkan 23 persen memperkuat cadangan keuangan dan pengelolaan likuiditas.
Tekanan juga terlihat dari kepailitan. Pada Agustus, tercatat 304 kepailitan usaha setelah penyesuaian jumlah hari sidang pengadilan, sekitar 9 persen lebih banyak dibandingkan setahun sebelumnya.
Meski demikian, industri memberikan dorongan yang cukup kuat. Volume produksi manufaktur pada Juli meningkat 9,0 persen secara tahunan setelah penyesuaian kalender. Produksi mesin melonjak 35,8 persen, sementara alat transportasi turun 9,9 persen. Lonjakan produksi secara keseluruhan dengan demikian belum menunjukkan penguatan yang merata di seluruh cabang industri.
Perdagangan internasional turut menopang aktivitas ekonomi. Volume ekspor barang pada Juli naik 2,1 persen dibandingkan setahun sebelumnya, terutama didorong mesin, sementara impor tumbuh 0,4 persen. Produk kimia dan alat transportasi juga mencatat peningkatan ekspor. Namun, laju pertumbuhan ekspor melambat dibandingkan Juni yang mencapai 3,4 persen; karenanya momentum eksternal masih perlu dijaga.
Harga dan Konsumsi Rumah Tangga
Dari sisi harga, tekanan kembali menguat. Inflasi tahunan meningkat dari 3,2 persen pada Juli menjadi 3,3 persen pada Agustus dan 3,4 persen pada September. Angka September masih merupakan estimasi awal. Harga energi termasuk bahan bakar kendaraan naik 13,9 persen secara tahunan, sedangkan harga jasa meningkat 3,9 persen. Sebaliknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turun 1,2 persen.
Tekanan tersebut juga muncul pada tingkat produsen. Harga output manufaktur pada Agustus meningkat 6,8 persen dibandingkan setahun sebelumnya, sementara harga minyak mentah naik 31 persen. Bagi usaha yang bergantung pada energi, kondisi ini berpotensi mempersempit margin atau mendorong penyesuaian harga jual.
Di sisi pendapatan, upah meningkat 4,0 persen secara tahunan pada kuartal ketiga, melambat dari 4,3 persen pada kuartal kedua. Konstruksi dan jasa bisnis khusus mencatat kenaikan tertinggi, masing-masing 5,0 persen. Sektor akomodasi dan makanan hanya mencatat 2,9 persen.
Konsumsi memberikan sinyal yang lebih positif. Omzet ritel Agustus tumbuh 3,5 persen secara tahunan setelah penyesuaian pola hari belanja, dengan volume penjualan naik 2,7 persen. Omzet kelompok nonmakanan meningkat 5,0 persen, sedangkan penjualan daring secara keseluruhan tumbuh 6,2 persen.
Namun, konsumen masih berhati-hati. Indeks keyakinan konsumen pada September berada di minus 33, sedikit membaik dari minus 34 pada Agustus, tetapi jauh di bawah rata-rata dua puluh tahun sebesar minus 12. Kesediaan membeli membaik, sementara penilaian terhadap kondisi ekonomi justru sedikit memburuk.
Demografi dan Pasar Tenaga Kerja
Di luar indikator bisnis, perkembangan penduduk memberi sinyal penting bagi permintaan domestik dan ketersediaan tenaga kerja. Berdasarkan angka sementara, jumlah penduduk mencapai sekitar 18,17 juta pada akhir Agustus. Selama Juli dan Agustus, penduduk bertambah sekitar 18,2 ribu orang. Perhitungan dari data bulanan menunjukkan sekitar 15,2 ribu berasal dari selisih migrasi masuk dan keluar, sedangkan sekitar 3 ribu berasal dari kelahiran.
Gambaran tersebut berbeda dengan semester pertama, ketika jumlah kematian justru melebihi kelahiran. Dalam enam bulan pertama, pertumbuhan penduduk sekitar 23 ribu orang sepenuhnya ditopang migrasi, lebih rendah dibandingkan hampir 37 ribu pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sudut pandang ekonomi, pertumbuhan penduduk dapat memperluas kebutuhan perumahan, barang, dan layanan. Namun, pertambahan penduduk tidak identik dengan pertambahan tenaga kerja. Usia, partisipasi kerja, dan keterampilan ikut menentukan pengaruhnya terhadap kapasitas produksi.
Pada Agustus, jumlah penganggur mencapai 408 ribu orang atau 4,0 persen angkatan kerja. Dalam tiga bulan terakhir, jumlahnya meningkat rata-rata 3 ribu orang per bulan. Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja bertahan di sekitar 9,8 juta selama hampir tiga tahun.
Pasar perumahan juga memperlihatkan perbedaan arah. Data terbaru menunjukkan, penjualan rumah baru pada kuartal kedua turun 11,2 persen secara tahunan, sementara transaksi rumah yang sudah ada naik 2,7 persen. Rata-rata harga transaksi mencapai 514 ribu euro untuk rumah baru dan 492 ribu euro untuk rumah yang sudah ada.
Dengan demikian, ekonomi Belanda di kuartal ketiga dengan fondasi pemulihan yang lebih terlihat pada sektor industri, perdagangan, dan ritel. Namun, ketidakpastian investasi, tekanan harga, serta pertumbuhan jumlah pekerja yang terbatas masih membatasi pertumbuhan lebih lanjut.




